YESUS KRISTUS ANAK ALLAH

Menurut ajaran Kristen (Nasrani), bahwa Dzat Allah itu terdiri dari tiga oknum, yaitu: Allah Bapak, Allah Anak, dan Roh Kudus. Dan ketiganya menjadi Allah yang tunggal. Dzat Allah itu tidak dapat dibagi atas tiga bagian, melainkan senantiasa satu adanya. Demikian juga tiga oknum itu tiada terceraikan dari Dzat Allah.

Allah Bapak itu sejati, Anak Allah itu sejati, dan Roh Kudus itu sejati. Allah Bapak itu sempurna, Anak Allah itusempurna dan Roh Kudus itu juga sempurna. Allah Bapak menjadi Bapak dari kekal sampai kekal. Demikian juga Anak Allah dan Roh Kudus uga kekal adanya. Dzat Allah Bapak, Anak Allah dan Roh Kudus itu tunggal. Sifat Allah Bapak, Anak Allah dan Roh Kudus datu adanya. Demikian juga pekerjaannya. Allah Bapak yang menjadikan Langit dan bumi, Anak Allah juga yang menjadikan langit dan bumi, dan Roh Kudus juga yang menjadikan langit dan bumi. Allah Bapak mengasihiorangyang berdosa, Anak Allah dan Roh Kudus juga mengasihi orang-orang yang berdosa.

Nyatalah, bahwa Allah Bapak, Allah Anak, dan Roh Kudus adalah satu adanya baik dalam Dzat, Sifat dan pekerjaan-Nya.

Walau demikian, ketiga oknum itu dibeda-bedakan di dalam Alkitab (Injil). Allah Bapak itu bukan Anak Alah, dan Anak Allah bukan Roh Kudus, dan Roh Kudus bukanlah Allah Bapak.

Allah Bapak disebut Bapak, karena memperanakkan Anaknya, dari kekal sampai kekal. Demikian pula Allah Bapak disebut Bapak karena segala sesuatu keluar dari-Nya. Allah Bapak mengadakan keselamatan bagi orang berdosa dengan jalan menyuruh Anak-Nya.

Anak Allah disebut Anak, karena diperanakkan oleh Bapak dari kekal sampai kekal. Anak Allah itu kemudian datang ke dunia menjelma menjadi manusia untuk melepaskan dosanya. Cara Anak Allah menjadi manusia adalah dengan jalan dikandung dan dilahirkan oleh Perawan Suci Maria dengan “Usaha Luar Biasa” dari Roh Kudus.

Bila ditanyakan apakah Bunda Maria adalah itu “Ibu Tuhan” sungguh-sungguh? “Ya.” sebab, puteranya itu, Yesus Kristus sungguh-sungguh Tuhan, jadi “Ia” pun  “Ibu Tuhan” sungguh-sungguh.

TERSESATKAH ORANG-ORANG NASRANI?

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapannya it, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena meereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambi (mempunyai) anak.” (Qur’an, Maryam, 19: 90-95).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qur’an, Al-Maidah, 5: 17).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Telah dimaklumi bersama, bahwa umat ini (Maksudnya orang-orang Nasrani) telah melakukan dua dosa besar yang tidak bisa diterima oleh orang berakal dan memiliki pengetahuan. Pertama, Berlebih-lebihan terhadap makhluk, hingga menjadikan sebagai sekutu Tuhan, dan menjadikan sebagai ‘bagian’ dari pada-Nya, sebagai Tuhan yang lain bersama-Nya, dan mereka tunduk sebagai hambanya. Kedua, Mencerca dan melecehkan Tuhan, menuduh-Nya dengan berbagai masalah besar. Misalnya, mereka mengira – Sungguh Allah Mahasuci dan Maha Tinggi dari apa yang mereka katakan – bahwa Tuhan turun dari langit, dari Arsy dan Kursi-Nya yang agung, lalu masuk ke dalam “Vagina” seorang wanita yang bernama “Maryam” dan tinggal di dalamnya selama sembilan bulan. Ia (Tuhan) dalam kandungan perut Maryam itu bercampur denan air kencing, darah dan kotoran. Ia terbungkus oleh beberapa kulit rahim dalam perut. Lalu Ia keluar dari tempat dimana Ia masuk, menjadi bayi, kanak-kanak, menyusui dan dibalut denagn kain bedong, tinggal di kasur, menangis, lapan dan dahaga, kencing (mengompol) dan buang air besar, di bawa dan digendong di atas pundak, kemudian setelah dewasa, orang-orang Yahudi menculik-Nya, kedua menampar kedua pipi-Nya, Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia  (Matius 26: 67), menyerer-nyeret tubuh-Nya untuk kemudian disalib secara terang-terangan di antara dua  pencuri, dikenakan pada-Nya mahkota dari duri, kedua tangan dan kaki-Nya di paku. Demikianlah mereka menimpakan berbagai bentuk siksaan. Inilah Tuhan mereka yang haq, yang menciptakan alam semesta secara teliti, yang disembah kepada-Nya dan sujud segala sesuatu kepada-Nya!?

Demi Allah, mereka telah sesat dengan sesat sejauh-sejauhnya. Ini adalah penghinaan dan pelecehan kepada Allah yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun dari manusia selama bumi berserta isinya ciptakan baik sebelum dan sesudah mereka. Belum pernah ada umat di zamannya masing-masing, sebelum dan sesudahnya yang begitu berani dan keji di dalam menghinakan dan melecehkan Tuhan seperti yang dilakukan oleh umat Nasrani ini.

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapannya it, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena meereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambi (mempunyai) anak.” (Qur’an, Maryam, 19: 90-95).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?” Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qur’an, Al-Maidah, 5: 17).

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun.” (Qur’an, Al-Maidah, 5: 72).

Bersabda Yesus Kristus (Isa Almasih as.): “Manusia mencelaku, padahal itu tidak pantas dilakukan. Mereka juga mendustakanku, padahal itu juga tidak pantas dilakukan. Ada pun celaan mereka kepadaku adalah perkataan mereka: “Allah mengabil (mempunyai) anak, dan bahwa aku adalah esa, tempat bergantung, dimana aku tidak melahirkan dan juga tidak dilahirkan, dan bahwa tidak seorang pun yang menyamaiku.” Dan pendustaan mereka terhadapku, yaitu ucapan mereka: “Ia  tidak mengembalikanku sebagaimana Ia menciptakanku.”

Umar bin Kaththab ra. berkata: “Hinakanlah mereka, tetapi jangan mendzalimi mereka. Sungguh mereka telah mencerca Allah dengan cercaan yang tidak seorang pun pernah melakukannya.

Demi Allah, sungguh para penyembah berhala, meski pun mereka adalah paramusuh Allah yang sesungguhnya, musuh para rasul-Nya serta manusia yang paling kufur kepda Allah, tetapi mereka enggan menyifati tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah selain Allah – yang terdiri dari batu, besi, dan kayu-kayu – seperti yang disifati oleh orang-orang Nasrani terhadap Tuhan semesta alam, Tuhan langit dan bumi. Dalam hati mereka, Allah adalah Maha Agung dan Maha Besar untuk disifati demikian atau dengan hal-hal yang mendekatinya dan dipersamakan dengan makhluk-Nya. Adapun syirik mereka adalah, karena mereka menyembah makhluk yang diciptakan Allah. Mereka mengira bahwa makhluk itu bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Mereka sama sekali tidak menjadikan tuhan-tuhan mereka itu sama dengan Allah, tidak juga sebanding, dan tidak pula beranak. Mereka tidak mencerca sebagai orang-orang Nasarani mencerca-Nya

ASAL KEPERCAYAAN ORANG-ORANG NASRANI

Alasan mereka dalam mencerca Tuhan mereka sungguh lebih buruk dari ucapan mereka itu sendiri. Ada pun asal keyakinan (aqidah) mereka – sehingga aqidah mereka disebut aqidah salib atau penebusan – yaitu, bahwasannya ruh-ruh para Nabi-nabi ‘Aaihimus Sallam pada mulanya adalah terdapat di neraka jahanam, di dalam penjara iblis, sejak zaman Nabi Adam hingga zaman Isa Almasih (Yesus Kristus). Seluruh manusia – termasuk para Nabi-nabi – terkena ‘Dosa Waris’. Mereka tidak akan terselamatkan, kecuali dengan cara berima akan adanya penebusan Yesus Kristus di tiang salib. [Padahal para Nabi-nabi dan kaumnya tidaklah hidup di zaman Isa Almasih] hingga mereka tidaklah mungkin dapat mengimani  konsep penebusan dosa ini, hingga nasib mereka tentu tidak terselamatkan. Bahwa Nabi dan Rasul Ibrahim, Musa, Nuh, Shalih, Huda dan yang lainnya dipenjarakan di dalam neraka disebabkan kesalahan Adam as. dan karena ia makan buah pohon terlarang.

Menurut ajaran Kristen,  Adam as. adalah manusia yang mula-bula diciptakan Tuha. Adamam dijadkan-Nya dari pada debu dan dihembuskan-Nya napas hidup ke dalam hidungnya. Lalu Adam ditempatkan-Nya di Taman Firdaus, di tanah Eden. Di dalam Taman Firdaus itu Adam dibebaskan untuk memakan segala macam buah-buahan yang terdapat di taman itu kecuali buah pohon pengetahuan akan hal baik dan jahat. Ia dilarang Tuhan memakan buah pohon itu. Kemudian dijadkan pula seorangisteri bagi Adam dari tulang rusuknya, yaitu Hawa. (Kej. pasal 2). Oleh karena godaan iblis, buah pohon terlarang itu akhirnya dimakan Hawa, kemudian diberikan Hawa pula keada suaminya dan dimakannya juga. Oleh karena sebab itu Adam han Hawa diusir dari dalam taman Eden tersebut. Mereka lalu tinggal di bumi dan beranak dan bercucu dan menjaid nenek-moyang turun-temurun. Dalam berumur sembilan ratus tiga puluh tahun Adam mati. (Kej. pasal 3-5).

Dengan berdasarkan Adam dan Hawa telah melanggar larangan Tuhan sebab makan buah pohon yang telah dilarang, Agama Kristen mengajarkan Adam dan Hawa telah berdosa. Dengan sebab itu, anak-cucunya menjadi orang yang turut berdosa pula sebab menjadi turunan dari orang yang berdosa. Karenanya, tiap-tiap anak yang dikandung dan dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan telah berdosa pula. Dosa ini disebut “dosa waris” atau “Dosa turunan”, yaitu dosa yang diwarisi atau yang berasal dari nenek-moyang mereka, adam.

Karenanya, setiap kali anak Adam yang meninggal dunia, iblis segera mengambilnya dan memenjarakannya di dalam neraka karena sebuah kesalahan bapaknya, Adam. Karena situasi dan kondisi seperti ini, sementara Allah hendak merahmati dan meloloskan mereka dari siksa neraka, Tuhan melakukan suatu siasat terhadap Iblis, yakni dengan cara Tuhan turun dari Kursi kebesaran-Nya ke bumi dan masuk ke dalam perut gadis Maryam yang tersucikan, sampai menunggu Ia dilahirkan, berangsur besar, dan menjadi seorang laki-laki dewasa. Lelaki itu – yang sesungguhnya Ia adalah Tuhan – akan menjadi ‘Juru Selamat – bagi manusia di bumi.

Dalam keadaan tetap demikian – dalam perut rahim Maryam – itulah Tuhan mengatur langit dan bumi beserta apa yang ada di dalamnya. (Andaikan… saat itu gadis Maryam yang di dalam perutnya sedang ada “Tuhan”, kemudian – andaikan  Maryam mati! !? – maka tentulah dunia dan kehidupan seluruhnya tidak akan pernah ada. Karena, dengan kematian Maryam saat itu, maka mati pula bayi yang dikandungnya!?

Demikianlah, di antara kemahaluasan alam semesta yang tiada berujung dan berbatas ini, di antara tebaran berjuta-juta bintang yang tidak terhitung banyaknya, di antara itu semua terseliplah setitik planet kecil yang disebut ‘bumi’. Kemudian, disetitik bumi yang halus dan lembut itu, tinggallah seorang gadis bernama ‘Maryam’ yang di dalam perutnya sedang mengandung ‘Tuhan’.  . Bersama Ibu-Nya Tuhan hidup di dalam rahim Maryam, bercampur dengan air kencing, darah dan kotoran. Ia terbungkus oleh beberapa kulit rahim dan ari-ari perut, dan sari sanalah Tuhan makan sari makanan apa yang dimakan oleh ibu-Nya. Selama waktu sembilan bulan,  Ibu Maryam menanggung beban kepayahan seperti umumnya ibu-ibu  lain yang sedang hamil.  Ia kepayahan dalam duduk, berdiri, dan berjalan, kepayahan dalam mencari posisi tidur dan kehati-hatian terhadap bayinya. Hingga bila hitungan bulannya telah cukup sembilan bulan dan sang bayi hendak keluar, adalah saat-saat kepayahan bagi yang ibu dalam memperjuangkan kelahiran anaknya.

Maka, pada hari itu, keluarlah Tuhan dari tempat di mana ia masuk,  menjadi bayi, kanak-kanak, menyusui dan dibalut dengan bedong, tinggal di kasur, menangis, lapar dan dahaga, kencing dan buang air besar, dibawa dengan tangan di atas pundak, kemudia setelah dewasa, orang-orang Yahudi menculik-Nya, kemudian menampar kedua pipi-Nya, meludahi wajah-Nya, memukul tengkuk-Nya, disalib secara terang-terangan di antara para pencuri, dikenakan pada-Nya mahkota dari duri, kedua tangan-Nya di paku, kemudian Tuhan pun mati di tangan makhluk ciptaan-Nya.

Dengan cara seperti inilah Tuhan telah menyelamatkan seluruh anak manusia serta para Nabi dar Rasul-Nya. Ia menebus mereka dengan diri dan darah-Nya sendiri. Lalu mengalirlah darah-Nya untuk mereka dosa anak Adam yang dahulunya dosa-dosa itu senantiasa mereka pikul ditengkuk masing-masing dari mereka yang berbuat dosa.

Perbersihan dosa ini berlaku bagi semua kecuali bagi mereka yang mengingkari atau meragukan penyaliban-Nya. Atau jika dia berkata: “Sesungguhnya Allah Maha Agung untuk melakukan hal yang demikian.”, maka orang-orang tersebut tetap berada dalam penjara iblis, disiksa di dalamnya, sampai ia mengakuinya, dan bahwa Tuhannya telah mati disalib, ditampar dan dipaku. Sebab, dengan itulah Ia membebaskan mereka dengan membiarkan musuh-musuh-Nya, menampar keuda pipi-Nya, meludahi wajah-Nya, memukul tengkuk-Nya, disalib secara terang-terangan di antara para pencuri, dikenakan pada-Nya mahkota dari duri, kedua tangan-Nya di paku.

Demikian mereka menisbatkan kepada Tuhan Al-Haq, suatu perbuatan yangdipandang renda oleh manusia yang paing hina-dina terhadap hamba sahayanya, dan tergadap perbuatan yang dipandang  rendah oleh para penyembah berhala jika ia menisbatkan kepada para patung mereka. Mereka – Orang-orang Nasrani – taleh mendustakan Allah yang telah mengabarkan kepada melalui firman-Nya bahwa Ia telah menerima tobat dari Adam as. dan mengampuni dosa-dosanya:

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerma tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerma tobat bagi lagi Maha Penyayang.” (Qur’an, Al-Baqarah, 2: 37).

Orang-orang Nasrani juga menisbatkan kepada Allah sesuatu kezliman yang paling keji. Mereka menuduh bahwa Allah memanjarakan para Nabi dan Rasul-Nya, dan para wali-wali-Nya alam neraka jahanam, karena kesalahan bapak mereka Adam. Mereka juga menisbatkan puncak kebodohan kepada-Nya, di mana Ia membebaskan mreka dari adzab dengan membiarkan musuh-musuh-Nya menyiksa diri-Nya sampai mereka membunuh dan menyalib-Nya, mengalirkan Darah-Nya, dan menisbatkan kepada-Nya kelemahan yang amat parah dimana Ia (Tuhan) tidak mampu menylematkan mereka dengan kekuasaan-Nya kecuali melalui cara tersebut, yakni membuat para musuh-musuh-Nya berkuasa atas Diri-Nya dan Putera-Nya, sehingga mereka melakukan apa saja. Padahal mereka saat itu telah tahu bahwa di Diri Tuhan ada kekuatan yang amat Dahsyat, yakni dengan bergabung-Nya tiga Tuhan, yakni Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Roh Kudus, tapi ketiga Tuhan yang bergabung menjadi  satu tetap saja lemah dan terkuasai oleh musuh-musuh-Nya. – Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan. –

Secara umum, kita tidak mengetahui suatu umat pun yang mencaci Tuhan dan sesembahannya yang sedemikian fatal sebagaimana umat Nasrani ini. Sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Kaththab ra.: “Sesungguhnya mereka mencaci Allah dengan cacian yang tidak pernah dilakukan seorang pun terhadap-Nya seperti umat Nasrani ini.”

Sebagian ulama Islam manakala melihat salib, mereka memejamkan mata seraya berkata: “Aku tidak mampu mengisi pandangan mataku dengan seseorang yang mencaci Tuhannya dengan cacian yang paling keji seperti yang dilakukan umat ini (umat Nasrani).” Karena itu para raja yang cerdas berkata: “Sesungguhnya, berjihad melawan mereka adalah wajib, baik menurut syara’ maupun akal. Sebab hal itu berarti penghinaan terhadap manusia yang memilki akalnya, karena ia juga merupakan syak akal dan syari.”

PENGAGUNGAN ORANG-ORANG NASRANI TERHADAP SALIB

Yang lebih mengherankan, mereka (orang-orang Nasrani) menyatakan bahwa Almasih (Jesus Krisrus) telah dihinakan dan disiksa oleh musuh-musuh-Nya, ditampar kedua Pipi-Nya, diludahi Wajah-Nya, dan dipukul Tengkuk-Nya, dan secara terang-terangan musuh-musuh-Nya telah membuatkan sebuah kayu palang lalu dengannya Jesus Kristus disalibkan, kedua Tangan dan Kaki-Nya di paku, dan dikenakan kepada-Nya mahkota berduri, serta disejajarkan dengan salib-salib para pencuri. Demikianlah keadaan Tuhan. Tapi, orang-orang Kristen tidaklah bersedih hati atas penyiksaan yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya terhadap Tuhan. Bahkan mereka turut bergembira dan bersuka cita sebagaimana  orang-orang Yahudi itu bergembira dan bersuka cita saat mereka menyeret-nyeret tubuh Jesus Kristus,  menampar kedua pipi-Nya, meludahi wajah-Nya, memukul tengkuk-Nya, dan bentuk-bentuk lain penyiksaan yang ditimpakan kepada-Nya. Bahkan orang-orang Nasrani menjadikan peristiwa itu sebagai hari raya keagamaan mereka. Dan yang lebih mengherankan lagi, kayu salib yang dibuat oleh musuh-musuh Jesus Kristus justru mereka jadikan sebagai simbol dari keagamaan dan syiar keagamaan mereka. Suatu hal yang membuat mereka tembah terlaknat. Seandainya mereka sedikit memiliki akal, niscaya mereka lebih mengutamakan untuk membakar, mematahkan dan memasukkan setiap salib yang mereka temui ke dalam kotoran. Orang-orang Nasrani telah mengagungkan salib, karena menurut anggapan mereka, Tuhan dan sesembahan mereka itu telah mati disalib, dihinakan, dilecehkan, dan dinistakan oleh musuh-musuh-Nya dalam rangka pengorbanan diri-Nya untuk penebusan dosa. Sungguh sangat mengherankan! Lalu, dengan cara apa lagi – setelah ini – salib itu masih perlu diagungkan, kecuali jika mereka adalah kaum yang lebih sesat daripada binatang ternak.

Pengagungan mereka terhadap salib pada hakikatnya adalah suatu yang baru(bid’ah) dalam agama Almasih. Sebab, itu terjadi beberapa masa setelahnya, bahka sama sekali tidak disebutkan di dalam Alkitab (Injil). Sebaliknya, disebutkan dalam Taurat yang mengatakan dilaknatnya orang-orang yang menggantungkan salib.

Ironisnya umat Nasrani menjadikan salib itusebagai sesembahan tempat mereka bersujud. Jika salah seorang dari mereka bersungguh-sungguh bersumpah, dimana ia tidak akan mengingkari atau berdusta dengannya, maka ia akan bersumpah atas nama salib. Sebaliknya, mereka berdusta jika bersumpah atas nama Allah dan mereka tidak akan berani berdusta jika bersumpah atas nama salib.

Jika umat Kristen itu memiliki akal, niscaya mereka pantas untuk melaknat salib demi sesembahan dan Tuhan mereka sat Ia disalib, sebagaimana mereka mengatakan: “Sesungguhnya bumi dilaknat karena Adam saat bersalah, sebagaimana bumi juga dilaknat saat Qabil membunuh saudaranya. Seperti juga dalam Injil disebutkan: “Sesungguhnya laknat turun ke bumi jika para penguasanya adalah anak-anak.

Jika mereka berakal, tentu sepantasnya mereka tidak membawa salib, tidak memegangnya dengan tangan mereka, tidak pula menyebutnya dengan lisa. Bahkan mereka semestinya menutup telinga mereka saat salib disebutkan. Sungguh benar apa yang dikatakan orang: “Musuh yang cerdik lebih baik dari pada teman yang bodoh.” Dengan kebodohannya, mereka menagungkan Almasih, tetapi justru dengan demikian mereka merendahkan dan melecehkannya. Sedang maksud mereka adalah untuk menghinakan orang-orang Yahudi dan menjauhkan mereka dari mereka. Tetapi yang terjadi, merekalah yang menjauhkan umat-umat lain dari agama Kristiani dan Almasih sejauh-jauhnya. Karena semua orang tahu, agama tidak akan tegak atas dasar-dasar itu. Untuk itulah para rahib dan orang-orang yang rendah dari mereka mencarikan berbagai bentuk “Keluarbiasaan khayalan” dan “sulap”, sehingga menjadikan orang-orang bodoh tertarik. Orang-orang bodoh itu akhirnya terpedaya dan mengaggapnya suatu kebaikan, bahkan mereka berkata: “Hal ini semakin menguatkan agama Kristen.

MEREKA MENJADIKAN PARA RAHIB DAN PENDETA MEREKA SEBAGAI TUHAN SELAIN ALLAH

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Qur’an, At-Taubah, 9: 31).

Maksud dari ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah..” Para Imam-imam Islam seperti Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari berbagai jalur yang berpusat kepada Adi bon Hatim ra. berkata: “Ketika sampai kepada Adi seruan Nabi Muhammad saw., maka dia kabur ke Syiria. Dia telah menganut agama Nasrani pada zaman jahiliyah. Saudara perempuan dan kelompoknya menawannya. Kemudian Nabi Muhammad saw. memberkan karunia dan hadiah kepada saudara perempuannya. Dia pulang kepada saudaranya (Adi Hatim). Dia menceritakan kepada Adi mengenai kebaikan Islam dan mendorongnya untuk menemui Nabi Muhammad saw. Kemudian berangkatlah Adi ke Madinah. Dia merupakan pemimpin kaumnya, yaitu kabilah Thai’i. Ayah Adi bernama Hatim Ath Tha’i yang dikenal dengan kedermawanannya. Orang-orang membicarakan kedatangan Adi. Kemudian Adi menemui Nabi Muhammad saw, sedang di lehernya tergantung kalung salib yang terbuat dari perak. Rasulullah saw. membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” Adi Hatim berkataaa: “Aku berkata, sesungguhnya kaum Nasrani dan Yahudi tidak menyembah ulama-ulama dan rahib-rahibnya.” Nabi Muhammad saw. bersabda: “Memang mereka tidak demikian, tetapi para rahib dan ulama-ulama itu telah menghalalkan yang haram untuk umatnya dan mengharamkan perkara yang halal untuk umatnya, lalu umat itu mengikutinya. Inilah penyembahan umat kepada mereka.”

Artinya, mereka mematuhi ajaran-ajaran orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta dan tanpa usul periksa apakah itu semua sesuai atau tidak, dengan yang telah diajarkan dari Tuhannya melalui para utusanNya dan termaktup dalam Kitab suci. Bahkan para ulama dan rahib-rahib mereka talah berani menta’wil-tawil/ menafsirkan ayat dengan samena-mena hingga menjauhkan dari maksud ayat sebenarnya.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-kitab, padahal bukan dari al-kitab dan mereka mengatakan:”Ia (yang dibacanya datang) dari sisi Allah”. Mereka berkata dusta terhadap Allah,   sedang mereka mengetahui.”(Ali-Imran 3:78)

Demikianlah keadaan umat Nasrani dan yahudi di dalam beragam, yakni menjadiakan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. Kemudian Rsulullah SAW bersabda: “Hai adi bagaimana pendapatmu, apakah membayakan dirimu jika kamu mengatakan: “Allah Maha Besar! apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang lebih besar dari Allah?”. Apakah membahayakan dirimu jika dikatakan: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah. Apakah kamu mengenal ada Tuhan lain selain Allah?” Kemudian Nabi Muhammad saw mengajaknya masuk Islam dan mengucapkan syahadat yang haq. Adi berkata, kemudian beliau bersabda: ”Sesungguhnya yahudi dimurkai dan kaum Kristiani itu sesat.

Yahudi dimurkai karena mengetahui kebenaran kemudian berpaling serta merubah-ubah ayat Allah dari tempatnya, sedang kaum nasrani beragama secara berlebih-lebihan dengan mengikuti prasangka-prasangka tanpa memiliki pengetahuan.

Demikian hal-ikwal keadaan mereka yang mengagungkan salib, seakan-akan alasan mengagungkan salib itu karena mereka melihat bahwa Tuhan mereka bener-bener telah matidi salib, tetapi salib itu tidak terbelah, tidak patah karena kewibawaan Almasih saat ia dibawa dengannya, dan tidak pula hancur. Bahkan konon matahari waktu itu menjadi hitam, keadaan langit dan bumi berubah-ubah. Dan ketika demikian keadaan yang terjadi, maka menurut mereka, salib itu berhak untuk diagungkan dan disembah.

Padahal keadaan yang sesungguhnya, bahkan keadaan alam seperti itu karena mereka marah dan murka bahwa ada seorang makhluk dari ciptaan disangka sebagai Tuhan.

Allah SWT berfirman:

“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”(Maryam 19: 90-95)

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam.” Katakanlah: “Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?.” Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah 5: 17)

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”(Al-maidah 5: 72)

Sebagian kaum cerdik dari mereka: “Sesungguhnya pengagungan mereka kepada salib adalah hampir sama dengan pengagungan terhadap kuburan para nabi. Dahulunya salib itu merupakan kuburan Almasih, dimana ia tergantung dengannya. Lalu ketika dikuburkan, kuburannyapun beralih kedalam tanah. Sungguh tidak ada kebodohan yang melebihi ini, sebab bersujud kepada kuburan para nabi dan beribadah kepadanya adalah syirik, bahkan termasuk syirik yang paling besar. Rasulullah saw, Imam orang-orang yang beragama lurus dan penutup para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Dan asal syirik serta penyembahan berhala pada mulanya adalah ber’itikaf di kuburan serta mensucikannya sebagai tempat ibadah.

Kalau demikian pertanyakanlah kepada mereka: “kenapa kamu mengagunggkan setiap salib Al-masih?”Jika mereka menjawab:”Kami mengagungkan setiap salib untuk mengingat kepada salib yang dipergunakan untuk menyalib tuhan kami.”Maka kami katakan: “Kalau begitu, demikian pula halnya dengan setiap lobang(untuk mengubur Al-masih) akan mengingatkan kita kepada lobang tempat penguburan Almasih. Karena itu agungkanlah setiap lobang kuburan dan bersujudlah kepadanya. Sebab lobang itu sama dengan lobang tempat penguburannya. Bahkan ia lebih pantas, sebab kayu salib tidak permanen dan utuh sebagaimana lobang-lobang tersebut.

Kemudian pertanyakanlah pula: “Tangan Al-masih lebih utama untuk diagungkan daripada salib, karena itu agungkanlah tangan-tangan orang-orang Yahudi, karena mereka menyentuh dan memegang Al-masih. Selanjutnya alihkan pula pengagungan ini kesetiap tangan-tangan manusia. Jika mereka menjawab: “Hal ini tidak kami lakukan, karena tangan-tangan itu menyentuhnya karena permusuhan. Maka kami katakan: “Menurut kalian, Almasihlah yang menghendaki dan memilih demikian?( Matius 27:46) Bahkan seandainya Almasih tidak menghendaki hal itu, tentu mereka tidak bisa melakukannya, karena Almasih punya kekuasaan sebagai tuhan. Padahal Almasih sendiri berkata: “Eli, Eli sabaktani…..!? (Artinya: “Tuhanku, Tuhanku…Mengapa engkau meninggalkan aku..!?)

Karena itu sebaliknya kalian harus berterima kasih dan memuji mereka, yakni orang-orang Yahudi dan tentara-tentara Romawi yang telah ikut didalam penangkapan Almasih untuk dibawa ketiang penyaliban, hingga terlaksan peristiwa penebusan dosa yang dilakukan Almasih untuk umatnya.

Demikian pula rasa terima kasih dan pengagungan diberikan pula kepada “Yudas Iskariot” yang telaah memberikan iformasi, menunjukkan dan memberi isyarat kepada serdadu-dadu tentara Romawi, hingga menyebabkan Almasih tertangkap dan dibawa ketiang salib untuk menjalani penebusan dosa. (Markus 13: 43-46)

Demikian pula dengan “Kayafas” kepala kahim orang Yahudi di zaman Almasih, dialah yang memberikan usul kepada “Pilatus” supaya Almasih itu dibunuh. ( Yoh 18:33, 19:16, Markus 15:1-15, Lukas 23:1-5, 13:25)

Mereka semua telah berjasa terhadap penyaliban Almasih dalam rangka ‘Penebusan dosa’, sehingga menjadikan keselamatan atas segenap orang-orang beriman dan orang-orang suci lainnya dari sebuah malapetaka belenggu mereka dan penjara iblis. Sungguh, betapa besar jasa-jasa yang telah disebutkan diatas terhadap kalian dan terhadap segenap nabi-nabi, sejak dari Adam as, hingga zaman Almasih. Maka agungkanlah mereka dan pujilah mereka!. Kemudian alihkan pula pujian-pujian itu terhadap mereka yang hidup setelah Almasih. Maka agungkanlah mereka dan pujilah mereka!, Kemudian alihkan pula puji-pujian itu terhadap mereka yang hidup setelah zaman Almasih, yakni para rahib-rahib dan pendeta-pendeta yang telah mengabdikan ajaran ‘peristiwa’ penebusan dosa tersebut.

Allah saw berfirman:

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.”.( Al-Maidah 5:77)

Akhirnya umat kristiani telah menjadikan antara Kesyirikan dengan pelecehan terhadap Tuhan. Juga pelecehan kepada nabi mereka dan penjauhan agama secara total. Mereka sama sekali tidak berpegang teguh dengan apa yang dibawa oleh Almasih itu sendiri, baik dalam sholat mereka, dalam puasa mereka, dalam sunat mereka, atau dalam hari-hari raya mereka. Dalam berbagai hal itu, mereka hanya ikut-ikutan kepada setiap orang yang berteriak, membeo kepada kebatilan dan memasukkan kepada syariat agama yang tidak termasuk dari padanya, sebaliknya meninggalkan apa yang dibawa oleh syariat.

Agama salib ini, yang setelah tiga ratus tahun Allah mengutus Muhammad saw, adalah berdasarkan permusuhan kepada akal dan syariat, berdasarkan pelecehan kepada Tuhan semesta alam serta menuduhNya dengan berbagai hal besar dan keji. Jika tidak ada orang kristiani yang mengambil bagian dari fitnah ini, maka dia bukanlah orang kristiani yang sesungguhnya. Dan bukanlah dia adalah agama yang dibentuk oleh para peserta berbagai konsil yang saling melaknat dimana mereka mengatakan ‘Satu adalah tiga” dan Tiga adalah satu” (Trinitas) dan tidak ada kesempatan didalam hal dalam memutuskan kata sepakat mengenal difinisi ketuhanan Yesus kristus tersebut. Sementera yang lain menambahkan bahwa ‘ibunda’ Maria adalah termasuk Dzat Tuhan juga, karena dialah ‘Ibu’ dari tuhan yang dimaksud. Belum selesai yang satu menemukan kata sepakat, telah timbul masalah yang baru mengenai kekuasaan diantara ketiga tuhan tersebut,nsiapa diantara ketiga oknum Dzat tuhan itu yang paling berkuasadi antara mereka; Dan siapakah yang pertama kali ada diantara ketiga-tiganya. Pertanyaan demi pertanyaan akan timbul, hingga sampai kepada pertanyaan berakhir, “Siapakah diantara ketiga oknum itu yang paling berkuasa menciptakan di antara mereka..!? Siapakah pencipta yang pertama kali, Siapakah yang menciptakan Yesus sedangkan matahari yang pernah menyaksikan mereka saat masih hidup di muka bumi, hingga kini tetap masih ada sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Namun, mereka…kemana perginya sekarang!?

Sungguh mengherankan, bagaimana orang yang berakal menerima hal ini dan menjadikannya sebagai puncak keilmuanya? Apakah mereka menganggap sudah tidak ada lagi orang yang menggunakan akal dan fitrahnya, sehingga mereka tidak mengetahui bahwa hal itu(Trinitas) adalah sesuatu hal yang mustahil terjadi. Bahkan meski ‘diumpamakan’ untuknya berbagai hal, atau diserupakan dengan yang lainnya. Dan tidaklah mereka menyebutkan suatu perumpamaan atau penyerupaan kecuali didalamnya justru semakin menegaskan kesalahan dan kesesatan mereka.

Seperti perumpamaan menurut sebagaian mereka. Bersatunya Tuhan dengan manusia,seperti bersatunya api dengan besi, bercampurnya air dengan susu atau bercampurnya makanan dengan anggota badan, serta kias dan perumpamaan lain yang mengandung percampuran materi sehingga menjadi materi sendiri. Padahal ada orang berakal berkata: ”setetes air cuka yang dijatuhkan di samudra lautan luas, tidaklah akan berpengaruh apa-apa! Apalagi bisa merubah air laut menjadi air cuka”.   “Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari penyerupaan dan persamaan dengan makhluknya”.

KUBURAN TUHAN ?

Meskipun begitu, mereka masih saja belum puas melecehkan Tuhan segenap langit dan bumi, orang-orang Kristiani bersepakat mengatakan bahwa Tuhan mereka diculik oleh orang-orang Yahudi, mengiringnya kedalam keadaan terpaksa dan hina. Ia( Tuhan) membawa sendiri dari kayu yang dengannya Ia disalib. Lalu orang-orang yahudi itu meludahi wajauNya, memukulNya,  menyalibNya, dan menusukNya dengan paku besi hingga mati. Kemudian mereka meninggalkanNya dalam keadaan tersalib. Kemudian darahNya membeku oleh teriknya matahari, RambutnyaNya pun menempel pada kulitNya. Lalu, setelah setelah Tuhan itu mati, Ia dikubur, dan tinggal dibawah tanah sampai tiga hari, baru kemudian bangkit dengan keTuhananNya dari dalam kuburNya. Demikian ini kepercayaan mereka, tak seorang pun mengingkari hal diatas sedikitpun. Masuk akal kah ini? Tuhan yang didalamnya terdapat Tuhan Bapak, Tuhan anak, dan Roh kudus telah mati, maka siapakah yang menggantikan posisi Tuhan selama itu? Siapakah yang menahan langit agar tidak jatuh ke bumi? Siapakah ? Tuhan yang didalamnya terdapat Tuhan Bapak, Tuhan anak, dan Roh kudus telah mati, maka siapakah yang menggantikan posisi Tuhan selama itu? Siapakah yang menahan langit agar tidak jatuh ke bumi? Siapakah yang menaikkan, menahan, dan menurunkan matahari agar siang dan malam akan tetap berjalan seperti biasanya? Sedangkan Ia( Tuhan) saat itu tengah dikubur oleh makhlukNyang menaikkan, menahan, dan menurunkan matahari agar siang dan malam akan tetap berjalan seperti biasanya? Sedangkan Ia( Tuhan) saat itu tengah dikubur oleh makhlukNya didalam kuburNya.

Lebih mengherankan lagi , apakah kalimatNya juga ikut terkubur bersamaNya? Atau Ia meninggalkanNya pada saat ia butuh pertolonganNya!? Seperti halNya kaumnya yang juga meninggalkanNya!?

Jika ia meninggalkanNya sendirian,berarti dia bukanlah Almasih. Ia adalah sama dengan manusia lainnya. Kemudian bagaimanakah Ia bisa meninggalkannya setelah Ia bersatu dengannya dan bercampur dengan darah dagingnya? Kemanakah perginya ‘ittihad’( persatuan) itu? Jika ia tidak meninggalkannya, sehingga dibunuh, disalib dan dikubur, bagaimanakah hal itu bisa terjadi…!? Bisakah makhluk sampai membunuh Tuhannya sendiri, menyalib, kemudian menguburkanNya. Padahal seluruh makhluk, alam semesta beserta isinya, keberadaan hidupnya bergantung kepada TuhanNya, maka bagaimana apabila Tuhan itu mati? Sedangkan ‘Roh’ yang ada didiri manusia saja bila ia hilang, maka matiah dirinya sebagai manisia. Demikian dengan tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan seluruh makhluk, bila dihilangkan sumber-sumber disekelilingnya yang menghidupkannya; air, udara, oksigen, matahari dan keteraturan bintang-bintang dilenyapkan, maka akan matilah yang namanya kehidupan. Maka mengapa Tuhan menciptakan, memelihara dan menguasai semua itu, bisa Mati?

Yang lebih mengherangkan lagi, setelah Tuhan itu mati, kenapa ada iring-iringan makhluk yang memanggul jenasah Tuhannya, mengusungNya untuk dibawa ke kuburanNya. Mengapa ada makhluk yang sedang menggali lobang untuk TuhanNya. Dibumi manakah yang bisa mampu menampung kuburan dari TuhanNya. Tapi, orang-orang Kristiani telah mendakwa bahwa mereka sanggup untuk membawa da memanggul Tuhannya sendiri untuk dimakamkan di pekuburanNya.

Kemudian, setelah Tuhan dikubur.., apa yang mereka perbuat untuk menulis sebuah tulisan di atas batu nisan-Nya: “Kuburan Tuhan ?!

Sungguh luar biasa! Kuburan manakah yang mampu menampung Tuhan langit dan bumi? Tuhan Yang Maha Suci, Yang Maha Mengusai, Maha perkasa dan Maha Agung.

Segala Puji Bagi Allah yang telah menghindarkan kita dari beragama seperti itu. Segala Puji bagi Allah yang telah menujuki kepada kita Islam. Dan tidaklah kita dapat petunjuk kecuali atas petunjuk Allah. Wahai Dzat Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan, sebagaimana Engkau menunjuki kami kepada Islam, maka kami mohon kepada-Mu janganlah kiranya  Engkau mencabut ke-Islaman itu dari kami, sehingga Engkau mematikan kami dalam keadaan beragama Islam.

Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman bertakwalah dengan sebenar-benar bertakwa kepadaNya. Dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”( QS. Al-Imran 3: 102)

Allah berfirman: “Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah diterima( agamaitu) dari padanya; Dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali-Imran 3: 85)

Allah berfirman:“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nik’matKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah 5: 3).

MELKISEDEK KUASANYA MELEBIHI DARI JESUS KRISTUS, BAHKAN HIDUPNYA LEBIH KEKAL, MENGAPA DIA TIDAK DISEBUT TUHAN?

14:18 Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. (Kejadian 14: 17)

7:2 …Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera.

7:3 Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya. (Ibrani 7: 1-3)

TRINITAS

KODRAT KETUHANAN DAN KEMANUSIAAN

Al-Imam Al-Ghazali (Th. 1058 – 1111 M)

Mereka orang-orangKristiani berkeyakinan, bahwa Tuhan menjadikan Isa Almasih (Yesus Kristus) mempunyai sifat ketuhanan (al-Lahut), kemudian Tuhan menjelma didalanm diri Isa Almasih (an-Nasut) dan menyatu. Mereka bermaksud menunjukan al-Itihad (Union Subtantion/ Penyatuan). Akibat dari adanya penyatuan ini menimbulkan ‘Hakikat Yang Ketiga’ yang sama sekali berlainan dengan hakekat diantara masing-masing, yaitu hakikat Tuhan dan hakekat Isa Almasih.

Hakekat yang dimaksud adalah terbentuk dari perpaduan Al-lahut dan An-nasut, dimana sebagai hakekat ketiga menurut mereka mempunyai sifat-sifat dari kedua hakekat tersebut, dari segi sebagai Tuhan dan dari segi sebagai manusia. Mereka sungguh berbuat kesalahan yang sangat besar ketika mengatakan tentang hakekat yang ketiga.

Sesungguhnya pada pertama, mereka telah mengakui tentang sifat Isa Almasih sebagai manusia, apa yang harus diperbuat, dan yang diwajibkan kepadanya. Pada kedua, mereka juga telah mengakui segala sifat tentang Tuhan. Tapi sayangnya mereka masih berpikir tentang hakikat yang ketiga seperti yang dikatakan diatas. Keyakinan yang seperti inilah yang sama sekali tidak masuk akal. Hakekat tersebut menurut mereka adalah Isa Almasih. Sungguh keyaikinan yang sangat keliru dan mereka sungguh telah merubah tentang kebenaran yang sangat jelas. Sesungguhnya bagi mereka dalam hubungan dengan keyakinan, ibarat syair yang mengatakan:

“Mereka mencari kebenaran yang jauh, dan pada saat kebenaran yang jauh itu tidak di dapati, ia mencari kebenaran yang lebih jauh lagi.”

Mereka berusaha untuk meyakini keterkaitan dzat Tuhan dengan dzat Isa Almasih, seperti keterkaitan jiwa dan raga. Pada saat mereka tidak mampu untuk membuktikan hakikat itu, mereka hanya mengatakan dengan kalimat ‘mungkin’ untuk keyakinan yang ada didalam hatinya.(bagi mereka yang mempercayai..)

Tentu hal ini tidak mendatangkan hujah atau dalil, atau setidaknya tidak dapat dijadikan sebagai suatu alat ‘dugaan’. Bila mereka tidak mampu mendatangkan dalil yang bersifat kemungkinan, bagaimanakah mereka mampu mendatangkan dalil, untuk menetepkan ‘kemustahilan’ yang tidak mungkin terwujut dalam kenyataan.

“Dapatkah persatuan bakteri yang masuk kedalam tubuh, ia kesana-kemari dalam tubuh itu sejak kepala sampai dengan telapak kaki, sampai dengan ujung kaki, sampai dengan bagian-bagian badan lainnya, apakah ia mampu setelah berputar-berputar itu mensifati jasad atau mengetahui hakikatnya? Dapatkan dengan penyatuan ini, antara wujud pertama dan wujud kedua, dapat menimbulkan ‘Hakikat Yang Ketiga’ yang sama sekali berlainan dengan hakikat diantara masing-masing, yaitu antara manusia dan bakteri, dimana sebagai hakikat ketiga menurut mereka mempunyai sifat-sifat dari kedua hakikat tersebut, dari sebagi manusia dan dari segi sebagai bakteri?.

Bakteri selamanya tetap bakteri baik dalam sifat, dzat dan perbuatannya. Dan tidak pernah terjadi sampai kapanpun, akibat dari adanya penyatuan ini menimbulkan ‘Hakikat Yang Ketiga’ yang sama sekali berlainan dengan diantara masing-masing, yaitu hakikat manusia dan hakikat bakteri.

Hakikat yang dimaksud adalah terbentuk dari panduan al-lahut dan an-nasud, didamana sebagai hakikat ketiga menurut mereka mempunyai sifat-sifat dari kedua hakikat tersebut, dari segi sebagai Tuhan dan dari segi sebagai bakteri. Kemudian ia berubah menjadi al-itihad( Union Substantion/Penyatuan)

Padahal perbandingan antar manusia dengan keagungan kerajaan (Kursi) Allah jauh lebih kecil dibandingkan dengan bakteri terhadap jisim manusia. Bagaimana mungkin bagi oknum mempelajari yang ada ini, ia mondar-mandir mengelilingi dunia( bumi) dan seluruh langit guna mengetahui rahasia-rahasia dan keistemewaan- keistimewaan? Kemudian dengan jarak tempuh yang serba terbatas baik dalam waktu, tempat dan ruang terbatas, lantas ia berprasangka dan berkesimpulan, bahwa ada seorang mahkluk yang berubah menjadi Tuhan….? Padahal andaikan seluruh manusia bersatu, ia hanyalah sejumput kecil dari makhluk-ciptaan-Nya? Maka apa kepentingannya kita dengan Dzat Allah SWT.