Allah SWT. Berfirman:

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah, 2: 208)

RINGKASNYA, yang dimaksud dengan Isalm kaffah  bermakna bahwa Islam adalah sebuah sistem universal yang sempurna, meliputi seluruh persoalan hidup manusia. Di dalamnya terdapat aqidah (keyakinan), ibadah, dan syariah.  Ketiganya merupakan tonggak penguat Islam Ia adalah jawaban universal yang sempurna bagi perkara duniawi dan ukhrawi yang meliputi masa dan tempat. Islam juga mencakup negara dan tanah air atau pemerintahan dan rakyat. Islam merupakan tata moral dan kekuatan atau hak dan keadilan. Islam adalah harta benda dan materi atau kerja usaha dan kekayaan. Islam juga merupakan jihad perjuangan dan seruan dakwah atau militer dan pemikiran (strategis). Begitulah nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah menjelaskan.

Sedangkan rukun-rukunnya merupakan bagian/sub dari Islam, [bukan sebagai totalitas Islam].

Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Islam adalah:

  • Aqidah yang tercermin dengan syahadatin dan rukum Iman,
  • Ibadah yang tercermin dengan shalat, zakat, puasa dan haji (juga tersebut dengan rukun Islam)
  • Bangunan (sistem) yang tegak di atas rukun-rukun tersebut yang tercermin dengan seluruh sistem hidup Islam, yang mencakup sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kemeliteran, akhlak dan lain-lain sebagainya.
  • Tiang-tiang penegak sebagai cara untuk menegakkan Islam yang tercermin dengan jihad, amar mar’ruf–nahi munkar, beserta sanksi-sanksinya. Tiang-tiang penegak ini bersifat basyari, bukan tiang penegak yang bersifat rabbani seprerti sanksi fitriah, sanksi paksaan Ilahiah di dunia, dan balasannya surga atau neraka di akhirat.

Lawan Islam adalah jahiliyah. [Setiap bagian dari Islam mempunyai lawan yang disebut jahiliyah].

Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah saw. kepada Abu Dzar ketika ia melakukan sesuatu yang tidak Islami. Rasulullah saw. bersabda:

“Kamu benar-benar berperangai jahiliyah”. (HR. Bukhari).

“Dan janganlah kamu berdandan (berhias) dengan dandanan perempuan jahiliyah dahulu (Al-Ahzab: 31).

“Wibawa Islam akan hancur sedikit demi sedikit apabila di kalangan umat Islam tumbuh orang yang tidak mengetahui jahiliyah.” (Al-Hadits)

Mengapa demikian, sebab seluruh ajaran Islam merupakan produk ilmu Allah Yang Maha Meliputi. Sedangkan semua pemikiran atau tingkah laku yang bertentangan dengan Islam disebut jahiliyah karena merupakan produk keterbatasan ilmu manusia yang selalu dikalahkan oleh nafsu syahwatnya, yang kadang-kadang melihat sesuatu yang baik sebagai buruk dan melihat sesuatu yang buruk sebagai yang baik.

Islam adalah kesempurnaan mutlak, sedangkan jahiliyah adalah kedangkalan mutlak. Manusia dihadapkan untuk memilih dua jalan hidup tersebut: ISLAM ATAU JAHILIYAH

Kebenaran adalah Islam, sedangkan kebatilan adalah jahiliyah. Islam adalah sebuah sistem universal yang meliputi seluruh aspek realitas hidup.

Islam mencakup negara dan tanah air atau pemerintahan dan rakyat. Islam merupakan tata moral dan kekuatan atau hak dan keadilan. Islam adalah harta benda dan materi atau kerja usaha dan kekayaan. Islam juga merupakan jihad perjuangan dan seruan dakwah atau militer dan pemikiran (strategis), sebagaimana juga Islam merupakan keyakinan (aqidah) dan ibadah yang benar dan lurus. Semua ini telah termaktub dalam Kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kita yakin bahwa Islam merupakan spektrum nilai yang sempurna. Islam mengatur semua persoalan hidup, menentukan aturan dan hukum yang rinci bagi segala hal, dan tidak pernah berpangku tangan di depan kesulitan-kesulitan hidup dan di depan peraturan yang harus ditegakkan untuk kemaslahatan (kesejahteraan) umat manusia.

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89).

Kalimat “untuk menjelaskan segala sesuatu” merupakan petunjuk yang jelas, bahkan Al-Qur’an telah memberikan atau menyiapkan jawaban yang tuntas dalam kehidupan manusia, sebagai makhluk hidup dengan segenap fitrah, kecenderungan dan kesiapan-kesiapan tersebut yang diketahui oleh Pencipta yang menciptakan manusia itu sendiri dan yang menurunkan al-Qur’an mulia dari manhaj ilahi ini, terutama dalam masalah pemberian ‘petunjuk’ terhadap segala hal. Jawaban Al-Qur’an itu dapat berupa isyarat secara langsung atau berupa sabda, perilaku dan keadaan Rasulullah saw. yang berfungsi sebagai penjelasan atau rincian dari Al-Qur’an sesuai dengan perkembangan zaman, sosio-kultur dan perkembangan kondisi manusia.

Sekali lagi kita katakan bahwa kebenaran adalah Islam, sedangkan kebatilan adalah jahiliyah. Kemaslahatan dan kebaikan adalah syariat Allah, dan kebalikannya adalah jahiliyah. Kemaslahatan manusia tidak akan dapat diketahui tanpa  syariat Allah. Sedangkan kejahilan dalam sistem (aqidah) dan ibadah merupakan jenis  jahiliyah yang paling besar. Oleh karena itu Allah memaafkan orang yang taubat terhadap amal perbuatan jahil yang tidak bersifat aqidah/ideologi [di mana ia tetap beraqidah baik dan benar]. Tetapi Allah tidak akan mengampuni sama sekali –meskipun ia bermoral dan berakhlak baik– orang yang aqidah dan ibadahnya jahiliyah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (QS. An-Nisa: 48).

Bila kita mengimani bahwa Allah swt. adalah satu-satunya Raja yang menguasai alam semesta (bumi langit dan seluruh isinya) maka kita –minimal – harus mengakui bahwa Allah swt. adalah Pemimpin (wali), Penguasa Yang Menentukan dan Yang Menjadi Tujuan (Ghayah).  Hal itu logis sebagai konsekuensi dari pengakuan kita bahwa Allah swt adalah Raja.Bukanlah Raja kalau tidaklah memimpin, bukanlah pemimpin kalau tidak punya wewenang menentukan ssesuatu, atau tidak punya “kata putus”.Kalau kita analogkan logika ini kepada

manusia, maka Raja yang tidak mempunyai kekuasaan adalah Raja simbol atau raja boneka yang hanya ditampilkan untuk upacara-upacara(ceremonial) belaka yang sangat tidak menentukan sistem kehidupan atau sistem pemerintahan. Seorang raja baru akan fungsional sebagai raja bukan karena dia sudah duduk di atas kursi kerajaan (singgasana) atau karena sudah tinggal di istana,bukan!.Dia baru akan fungsional sebagai raja apabila berfungsi menjadi pemimpin dalam arti yang sebenarnya, yaitu apabila kata-katanya didengar, perintahnya diikuti dan larangannya dihentikan. Dan apabila terjadi perselisihan dia yang akan menyelesaikan. Al-Quran menjelaskan bahwa Allah swt adalah pemimpin orang-orang yang beriman:

“Allah pemimpin orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (Az-Zhulumat) kepada cahaya (an-Nur) .Dan orang-orang kafir pemimpin-pemimpin mereka adalah thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka.Mereka kekal didalamnya”.(Al-Baqarah 2:257).

Az-Zhulumat (kegelapan) dalam ayat di atas adalah simbol dari segala bentuk kekufuran, kemusyrikan, kefasikan dan kemaksiatan, atau dalam bahasa sekarang, az-Zhulumat adalah bermacam-macam ideologi dan isme-isme yang bertentangan dengan ajaran Islam seperti komunisme, sosialisme, kapatilisme,  liberalisme, materialisme, hedoinisme demokrasi dan lain sebagainya.

Sedangkan an-Nur, adalah simbol dari ketauhidan, keimanan, ketaatan (Islam).

At-Thagut, adalah segala sesuatu yang disembah (dipertuhankan) selain dari Allah swt. dan dia suka diperlakukan sebagai tuhan tersebut. Thagut adalah segala sesuatu yang menentang kebenaran dan melanggar batas yang telah digariskan oleh Allah swt. untuk-Nya. Thagut itu bisa berbentuk pandangan hidup, peradaban dan lain-lain yang tidak berdasarkan ajaran Allah swt .

Allah menurunkan Islam dalam keadaan lengkap dan sempurna. Barangsiapa mengambil seluruh Islam maka ia adalah seorang Muslim . Barangsiapa mengambil sebagian dan mengabaikan sebagian Islam, maka ia termasuk orang yang mencampur-adukkan jahiliyah dengan Islam. Orang semacam ini telah dinyatakan di dalam Al-Qur’an:

“..Dan (ada pula) orang-orang lain telah mengakui dosanya, mereka mencampurkan amal kebajikan dengan amal lain yang buruk..” (QS. At-Taubah: 102).

Jika seorang mengerjakan kejahatan lalu ia taubat, ia tetap menjadi Muslim dan ia dalam keadaan baik selama ia beraqidah kepada seluruh ajaran Islam. Jika ia berkelanjutan dalam mengerjakan kejahatan, tetapi ia tetap beraqidah pada seluruh ajaran Islam, ia disebut sebagai seorang fasik, meskipun kedudukannya tetap sebagai seorang muslim yang fasik. Yang penting seorang muslim harus membersihkan dirinya dari seluruh akhlak jahiliyah dan menghiasi serta mengisinya dengan totalitas Islam. Di samping sebagai umat Islam harus merupakan refleksi totalitas Islam dan mengubah kesewenang-wenangan sistem jahiliyah di dunia. Karenanya penyimpangan yang berbahaya yang terjadi dalam sistem pemerintahan Islam ialah penyimpangan umat Islam dari sistem pemerintahan khilafah menjadi sistem pemerintahan kerajaan turun temurun, diktator, aristokrat. Sehubungan dengan ini Rasulullah saw. bersabda:

“Khilafah sesudahku tiga puluh, kemudian menjadi kerajaan yang ditaktor.”

Kemudian sistem jahiliyah dapat merusak umat Islam pertama kali melalui sistem pemerintahannya. “Ikatan Islam akan lepas sedikit demi sedikit, pertamanya ialah lepasnya pemerintahan (islam) dan akhirnya (lepasnya) shalat”.

Kemudian sebagai akibat macetnya fungsi Islam sebagai penghancur yang mampu mencampakkan sistem jahiliyah menjadi barang rongsokan, terjadilah keadaan sebaliknya dimana sistem jahiliyah itu sendiri dapat menyerbu dunia Islam. Sehingga dewasa ini banyak sekali propaganda-propaganda jahiliyah tersebar di bumi Islam dan banyak pula orang-orang Islam yang menerima propaganda-propaganda tersebut. Seperti propaganda missionary, komunisme, demokrasi, falsafat kebebasan, partai-partai politik yang tidak beoreintasikan Islam, dan agen-agen kufar yang bergerak dengan kedok kemajuan, memerangi keterbelakangan dan slogan-slogan lainnya. Semuanya dilancarkan dengan sistematik dan berencana. Sehingga propaganda-propaganda jahiliyah ini dapat menancapkan pangkalannya di seluruh negara-negara Islam, serta masing-masing mempunyai pengikut dari kalangan kaum muslimin. Mereka hendak menjadi jalan tengah dalam beragama.

Di satu sisi ia tetap menjalankan ritual ke-Islamannya, tapi di sisi lain ia saling mendukung dan bantu-membantu di dalam tegaknya sistem jahiliyah.

Dalam hal ini Allah SWT. Berfirman:

“sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada allah dan rasu-rasul-nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) allah dan rasul-rasul-nya, dengan mengatakan: “kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),  merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (qs. an-nisa: 150-151)

Demikianlah, di satu sisi ia tetap menjalankan ritual keislamannya, tapi di sisi lain ia saling mendukung serta bantu membantu di dalam tegaknya sistem jahiliyah, kemudian daripadanya ia mendapatkan rezeki (upah) atas pengabdiannya.

Padahal tidaklah Allah SWT menciptakan dan memberi rezeki kepada manusia selain untuk beribadah (mengabdi) kepada-Nya semata dan  tidak menyekutukan-Nya. Allah SWT. berfirman:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. “Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 21-22).

Mengapa sampai terjadi demikian? Sebabnya paling tidak, pertama karena kejahilan kaum Muslimin sendiri terhadap Islam, dan kedua beralihnya kekuasaan politik pada kaum penjajah, kemudian beralih pula ketangan para intelektual dan kaum politisi yang loyal dan setia pada sistem penjajah, atau kedua-duanya. Oleh karena itu penyerbuan sistem jahiliyah semakin sistematik dengan ditunjang oleh alat-alat propaganda yang serba canggih, sehingga akibatnya sistem Islam menjadi sangat asing di kalangan kaum Muslimin sendiri.

Wahai kalian yang telah ridha, Allah sebagai Rabb kalian, Islam sebagai Dien kalian, dan Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul kalian, ketahuilah bahwasannya Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2).

Artinya: “Inilah Kitab Allah (Al-Qur’an)  tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk  bagi mereka yang bertaqwa. Inilah manhaj (sistem) Allah”  maka ikutlah kepada sistem-Nya supaya kamu beruntung:

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS.2: 5).

Kemudian bila  mereka ragu dengan manhaj-Nya, maka Allah swt. menantang mereka untuk membuat surat semisalnya yang seperti  Al-Qur’an sebagai lawan tandingan kepada-Nya. (baik itu berupa pemikiran, ideologi, perundang-undangan atau  sistem buatan manusia, dan lain-lain), dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah untuk membuat surat semisalnya itu. Maka jika kamu tidak bisa membuatnya.…,  [dan pasti kamu tidak bisa membuatnya!] Maka peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. Allah SWT. berfirman:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 23-24).

Demikianlah, kita dapati keadaan di suatu kaum  yang telah memakai surat semisalnya sebagai ganti dari manhaj-Nya dalam tatanan kehidupannya akan senantiasa selalu mengalami kegagalan! 

Mereka beriman kepada sebagian isi al-qur’an dan kufur kepada sebagian yang lain

Arti kaffah, bila diibaratkan dengan tubuh seekor sapi yang hidup, maka seluruh apa yang ada pada bagian tubuh sapi itu, baik dari bagian kepala, badan, kaki sampai kepada ekornya adalah merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, maka sapi yang dalam keadaan utuh ini yang disebut dengan kaffah. Oleh karena itu, sapi yang sudah dihilangkan kepalanya,  atau kakinya atau ekornya tidak  bisa disebut kaffah lagi.

Isalm kaffah  bermakna bahwa Islam adalah sebuah sistem universal yang sempurna, meliputi seluruh persoalan hidup manusia. Di dalamnya terdapat aqidah (keyakinan), ibadah, dan syariah.  Islam juga mencakup negara dan tanah air atau pemerintahan dan rakyat. Islam merupakan tata moral dan kekuatan atau hak dan keadilan. Islam adalah harta benda dan materi atau kerja usaha dan kekayaan. Islam juga merupakan jihad perjuangan dan seruan dakwah atau militer dan pemikiran (strategis), Semua ini telah termaktub dalam Kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Ada sebagian orang yang mengaku Islam dan mengatakan: “Kami beriman kepada Al-Qur’an, tunduk kepada hukum-hukumnya, akan tetapi dalam hal-hal lain kami tidak mempergunakannya. Mereka menerima hukum-hukum Al-Qur’an dalam masalah aqidah, ibadah, dan akhlak, tetapi tidak menerimanya dalam bidang-bidang penetapan hukum syariat, ekonomi, politik, dan lain-lain.

Sebagian orang menerimanya dalam bidang penetapan hukum syariat, akan tetapi hukum syariat yang berkisar pada keluarga, masalah-masalah pribadi dan tidak untuk masalah-masalah sosial, masalah kekuasaan, politik, ekonomi, dan hubungan internasional.

Anehnya, pernyataan ini justru muncul dari orang yang mengaku Islam, mengakui Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, Muhammad saw. sebagai rasulnya, dan Al-Qur’an sebagai panutannya.

Merekah telah memperlakukan Islam  bagaikan sebuah potong-potongan daging sapi yang dijual di pasar-pasar. Mereka akan membeli atau mengambil apa yang mereka butuhkan, sedangkan yang tidak mereka butuhkan mereka tinggalkan.

Mengapa pernyataan ini muncul dari orang yang berkayakinan bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Allah, dan semua yang tertera dalam mushaf itu adalah firman Allah?! Apakah orang seperti ini memiliki pengetahuan di atas Tuhan mereka? Ataukah mereka mengaku lebih tahu daripada Tuhan mengenai kemaslahatan makhluk-Nya? Ataukah mereka menganggap lebih baik kepada makhluk Tuhan dibandingkan Tuhan sendiri? Apakah orang-orang itu berpikiran bahwa mereka adalah ‘sekutu’ Allah yang bersaing dan berpartisipasi dalam menguasai mereka? Sungguh sangat tidak baik apa yang mereka kerjakan.

Bagaimana mungkin makhluk dapat menjadi ‘sekutu’ Khalik? Bagaimana mungkin manusia yang ‘baru’, tidak kekal, terbatas dan lemah ini dapat menyaingi Tuhan Yang Maha Tinggi, Tuhan Yang Pertama tapi tidak berawal, Yang Akhir tapi tidak berakhir, Yang Memiliki Kehendak Yang Mutlak, Kekuasaan Yang Maha Dahsyat, yang tidak dapat dikalahkan oleh sesuatupun yang ada di bumi maupun di langit.

Kami telah melihat sebagian orang yang mengatakan bahwa “Al-Qur’an periode Makkah” sajalah yang harus kita ikuti, sedangkan “Al-Qur’an periode Madinah” tidak patut diikuti, karena ia bertentangan dengan berbagai persoalan hidup kita yang senantiasa berubah dan berkembang. Kita boleh statis dalam mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah. Padahal sikap seperti inilah yang tidak diinginkan oleh Al-Qur’an terhadap Bani Israel. Ia memberikan peringatan yang sangat keras kepada mereka dan memberikan ancaman sangat berat karena mereka ‘menyeleksi’‘ hukum-hukum Taurat. Hukum yang mereka kagumi mereka perguanakan sedangkan yang tidak menarik hati mereka buang. Allah SWT. berfirman:

“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian darimu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah: 85-86).

Allah SWT. pernah memberikan peringatan kepada Rasulullah saw. – yang juga menjadi peringatan kepada ummatnya setelah itu – agar tidak terpedaya oleh ahli kitab yang berpaling dari sebagian isi Al-Kitab, tidak mau menetapkan hukumnya, dan tidak pula mau mengamalkannya. Allah SWT, berfirman:

“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 49).

Al-Qur’an sangat mencela sikap orang-orang munafiq yang menolak hukum Allah dan Rasul-Nya, apabila mereka diseru kepadanya. Mereka tidak mau tunduk kepadanya kecuali kepada perkara yang sesuai dengan keingingan hawa nafsu dan kemaslahatan mereka. Al-Qur’an menafikan iman mereka dengan jelas sekali. Allah SWT, berfirman:

“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.  Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.  Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku lalim kepada mereka?  Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang lalim.   Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nuur: 47-51).

Inilah seharusnya sikap seorang Mukmin apabila dipanggil kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, yaitu patuh dan taat dengan tidak merasa ragu dan canggung, “Mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Sesungguhnya janji setia untuk beriman kepada Allah sebagai Tuhan, Muhammad saw. sebagai rasul, dan Al-Qur’an sebagai panutan, menuntut dengan mewajibkan sikap ridhanya terhadap apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, dan setiap apa yang digariskan oleh-Nya. Jika tidak, maka iman itu hanya merupakan ucapan di bibir saja tanpa makna, dan pengakuan yang tidak disertai dengan kenyataan. Allah berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka..” (QS. Al-Ahzab: 36).

Sedangkan orang-orang yang tidak beriman dan tidak akan tunduk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya kecuali apabila ada hak dan kepentingan mereka di dalamnya, hati mereka sakit dan diselimuti oleh keraguan.

“……Mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah: 45)

“……Sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nuur: 47)

al-qur’an adalah satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah

Al-Qur’an merupakan satu kesatuan yang tidak terpisah-pisah. Ajaran dan hukum-hukum-Nya saling berkaitan erat, antara sebagian dengan sebagian yang lain, sehingga menyerupai rangkaian anggota tubuh manusia. Sebagian tubuh itu mempengaruhi sebagian yang lainnya. Maka aqidah memberi ‘suplai energi’ kepada ibadah, dan ibadah memberi ‘supalai energi’ kepada akhlak. Dan ketiga hal ini memberikan ‘suplai energi’ kepada bidang-bidang praktis dan amalan agama dalam kehidupan manusia.

Logika keimanan dan logika pemikiran tidak membenarkan seorang Muslim kecuali mengatakan: “Kami mendengar dan kami patuh”.  Ketika dia membaca firman dalam surat Al-Baqarah ini: “Hai  orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

tetapi bila dia membaca sebuah ayat dalam surat yang sama, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qiyas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh..” (QS. Al-Baqarah: 178).  Maka dia mengatakankan, ‘Kami mendengar tapi kami enggan’.

Mengapa? Karena sesungguhnya ayat yang pertama tergolong dalam bidang ibadah, sedangkan ayat kedua termasuk dalam bidang penerapan sanksi. Artinya, ketika manusia menerima sanksi hukum dari Allah, maka dia akan mengambil sebagian ayat dan meninggalkan yang lain, dia akan menerima satu ayat dan menolak ayat yang lain, sesuai kemauan hawa nafsunya.

Atau mereka mengambil ayat Kursi dalam surat al-Baqarah:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255).

tetapi tidak mengambil ayat lain dalam surat yang sama:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS. Al-Baqarah: 278-279)

Karena sesungguhnya ayat-ayat Kursi berbicara tentang Ilahiyat sedangkan ayat riba berbicara tentang mu’amalah (urusan hidup manusia)

Contoh yang sama adalah berkenaan dengan orang yang menerima satu ayat dalam surat al-Maidah berikut ini:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku..” (QS. Al-Maidah: 6).

tetapi dalam masa yang sama dia menolak firman Allah SWT.

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Al-Maidah: 38).

Atau orang yang menerima firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu..” (QS. Al-Maidah: 87-78).

tetapi pada ayat yang sama dia menolak firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (minuman) khamar, berjudi, (berkorban u ntuk) berhala, mengundi nasid dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 90)

Ada juga orang   yang menerima ayat dalam surat al-Hajj:

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al. Hajj: 77).

Tetapi dia menolak ayat berikutnya:

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu..” (al-Hajj: 78).

Bahkan dalam ayat ini Allah berfirman:

“..Maka dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat..” (QS. Al-Hajj: 78).

Kemudian orang-orang berkata, “Saya akan mengambil shalat dan tetapi tidak mengambil zakat, karena sesungguhnya shalat merupakan amalan syariat yang bersifat ruhani murni, sedangkan zakat merupakan amalan fardhu yang berkaitan dengan harta kekayaan dan ekonomi. Aku menerima ini dan tidak menerima itu.”

SUNGGUH sangat menakjubkan. Apakah seorang hamba lebih mengetahui perkara itu daripada Tuhannya? Ataukah kini makhluk telah lebih tinggi derajatnya daripada Penciptanya? Sesungguhnya manusia sama sekali tidak akan dapat berdiri sendiri sejajar dengan Allah. Bahkan lebih dari itu, manusia telah menjadikan suatu mahkama tinggi untuk membatalkan dan mengukuhkan suatu hukum. Dengan mahkamah itu dia membatalkan hukum-hukum Allah sesuai dengan pikiran atau hawa nafusunya, dan mengukuhkan kehendaknya sendiri. Mereka telah menjadi sekutu-sekutu bagi Allah SWT.

Pada hakikatnya, ada suatu persoalan yang teramat penting (aksiomatika) dalam agama ini yang diyakini bersama dan tidak diperselisihkan lagi.   -dalam arti tidak memerlukan lagi kepada dalil yang mendukungnya- bahwa sesungguhnya seluruh ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an wajib kita laksanakan. Sebenarnya tidak terdapat perbedaan antara perkaran yang dinamakan ruhani dan materi, antara perkara yang berkaitan dengan urusan agama dan perkara yang menyangkut urusan dunia, antara perkara yang berkaitan dengan individu maupun sosial. Penamaan topik-topik seperti itu tidak terdapat di dalam kitab Allah. Tidak ada perbedaan antara sebagian perkara itu dengan sebagian yang lain selama semuanya masih berada di dalam wilayah perintah dan larangan Allah.

Barangsiapa yang membuka mushaf Al-Qur’an dan membaca surat Al-Fatihah, kemudian melanjutkan bacaan itu kepada surat Al-Baqarah, maka dia akan menemukan sifat-sifat orang yang bertaqwa dan mendapatkan petunjuk dari kitab suci Allah bahwa mereka adalah:

“Orang-orang yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3).

Sisi aqidah dalam ayat itu dikaitakan dengan iman kepada yang gaib, sedangkan sisi amalan agama, yaitu mendirikan shalat dikaitkan dengan sisi ekonomi, yaitu menafkahkan sebagian dari apa yang diberikan oleh Allah.

Disamping itu, kita juga dapat menemukan berbagai sifat orang-orang yang beriman, bertaqwa, dan berbuat kebajikan dalam surat-surat Al-Qur’an lainnya, yang tidak membeda-bedakan antara satu sisi dengan sisi lainnya. Kita dapat menemukan sifat seperti sangat jelas pada awal-awal surat al-Anfal 2-5, surat al-Mu’minun: 1-11, pada pertengahan surat as-Syura: 36-39, selian menemukan sifat-sifat hamba Alla Yang Maha Pengasih dalam surat al-Furqan: 63-67 dalam surat al-Furqan, sifat-sifat yang berbuat kebajikan dalam surat adz-Dzaariyat: 15-19, dan lain-lain.

ambil islam seluruhnya atau tinggalkan sama sekali

Setiap manhaj (sistem) mempunyai filsafat dan gagasannya tentang kehidupan. Setiap sistem mempunyai masalah-masalah yang timbul dari penerapannya dan mempunyai persoalan-persoalan yang sesuai dengan watak dan pengaruhnya di alam nyata. Demikian pula setiap sistem mempunyai penyelesaian-penyelesaian untuk menghadapi persoalan dan masalah yang timbul dari watak dan metodenya.

Jadi tidak logis, dan juga tidak adil, kalau dari suatu sistem tertentu diminta menyelesaikan dari masalah-masalah yang tidak ditimbulkannya sendiri, tetapi ditimbulkan oleh suatu sistem lain yang berbeda watak dan metodenya dari sistem itu.

Logikanya yang rasional akan berpendapat: Siapa yang bermaksud minta pendapat suatu sistem tertentu dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan, maka sistem ini harus dilaksanakan terlebih dahulu dalam kenyataan hidup. Setelah itu baru dilihat apakah masalah-masalah itu masih ada atau menghilang, atau berubah bentuk dan unsurnya. Hanya disaat inilah kita mungkin meminta pendapat sistem ini mengenai persoalan-persolan yang timbul, sewaktu dilaksanakan.

Islam adalah suatu sistem kemasyarakatan yang lengkap, yang unsur-unsurnya saling berkaitan dan saling mendukung. Sistem ini berbeda wataknya, gagasannya tentang kehidupan dan cara-cara pelaksanaannya dari sistem-sistem Barat, dan dari sistem yang kita pakai sekarang ini. Perbedaan ini adalah perbedaan pokok dan menyeluruh. Sudah pasti bahwa sistem Islam itu  tidak ikut andil dalam menimbulkan persoalan-persoalan yang terdapat dalam masyarakat sekarang ini. Persoalan-persoalan itu timbul dari watak sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat dan ditimbul karena dijauhkannya Islam dari lapangan kehidupan.

Tetapi yang aneh setelah itu, adalah bahwa Islam banyak sekali diminta pendapatnya mengenai persoalan-persoalan itu. Islam diminta untuk mengemukakan penyelesaiannya. Ia diminta untuk mengeluarkan pendapat tentang masalah yang tidak ditimbulkannya. Heran sekali kenapa Islam diminta pendapatnya dalam suatu negara di mana sistem Islam itu tidak dilaksanakan, mengenai masalah-masalah seperti wanita dan perlemen, wanita dan kerja, wanita dan pergaulan bebas, masalah seks para pemuda, kriminal dan narkoba dan lain-lain. Dan anehnya, orang-orang yang meminta agar Islam mengeluarkan pendapatnya dalam masalah ini adalah orang-orang yang tidak suka kalau Islam itu memerintah, malah mereka takut sekali untuk membayangkan jika pemerintahan Islam itu berdiri.

Dan yang lebih aneh lagi dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah jawaban-jawaban yang diberikan para  ulama Islam, dan kesediaan mereka untuk ikut serta dengan para penanya itu dalam perdebatan tentang pendapat Islam dan hukum Islam, dalam perincian-perincian masalah seperti itu, dalam membahas persoalan-persoalan itu, dalam suatu negara yang tidak diperintah oleh Islam dan sistem Islam tidak dilaksanakan.

Apakah urusan Islam sekarang ini dengan masuk tidaknya wanita ke dalam parlemen? Apa urusan Islam dengan masalah wanita dan pria bergaul bebas atau tidak? Apakah urusan Islam dengan masalah apakah wanita boleh bekerja di luaran atau tidak? Apa hubungan Islam dengan suatu persoalan dari persoalan-persoalan yang dipunyai sistem-sistem yang dilaksanakan dalam masyarakat ini, yang tidak percaya kepada Islam, dan tidak suka kepada pemerintah Islam?

Kenapa masalah-masalah perincian ini diminta untuk disesuaikan dengan hukum Islam, padahal sistem Islam itu sebagai keseluruhan diusir dari pemerintahan, diusir dari sistem kemasyarakatan, diusir dari perundangan-undangan negara dan diusir dari kehidupan bangsa?

Islam adalah suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi-bagi. Jadi Islam dapat diambil sebagai suatu keseluruhan dan dapat  pula ditinggalkan secara keseluruhan. Tetapi kalau Islam di minta  untuk mengeluarkan pendapat dalam urusan yang kecil-kecil, tetapi sama sekali tidak diperhatikan dalam masalah prinsipil yang besar-besar yang menjadi dasar kehidupan dan masyarakat, maka masalah-masalah kecil seperti ini tidak boleh diterima oleh seorang Islam, jangankan oleh seorang ulama, oleh umat Islam pun tidak boleh.□

ibadah disisi seorang manusia

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menhendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh”. (QS. Adz-Dzariyat: 56-58).

Ayat-ayat di atas membatasi tujuan hidup manusia, yakni ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Ibadah kepada Allah mempunyai dua sisi pada diri seseorang manusia.

Pertama, yang berkaitan dengan ibadah fardiyah yang bersifat individu.

Kedua, yang berkaitan dengan ibadah jama’iyah (yang bersifat kolektif)

Adapun yang berkaitan dengan ibadah fardiayah, maka hal ini bisa dilaksanakan oleh seorang secara sendiri-sendiri. Sama saja, apakah di sana ada tatanan dan peraturan Islam atau tidak. Sama saja, apakah orang tersebut hidup di Amerika atau di Rusia atau di negeri-negeri Barat. Dia dapat mengerjakan ibadah fardiyah ini secara terang-terangan atau secara diam-diam. (kecuali di negeri Rusia ketika masih menjadi negara komunis, mungkin saja tidak dapt mengerjakan ibadah fardiayah ini walau secara diam-diam). Ibadah fardiayah, seperti shalat, zakat dan puasa mungkin bisa dikerjakan seorang di manapun dia berada.

Akan tetapi disana ada ibadah jama’iyah yang hanya mungkin bisa dilakukukan melalui sekelompok orang. Di antara ibadah-ibadah ini, adalah ibadah haji. Dalam syiar-syiar haji, imam harus memimpin manasik. Kemudain diantaranya adalah jihad fisabilillah. Jihad adalah ibadah jama’iah yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia seorang diri – apabila dia menghendaki ibadah buah dari ibadah jihad tersebut – Di antaranya juga menegakkan hukuk had Allah di muka bumi seperti, memotong tangan orang yang mencuri, merajam orang yang berzinah (yang sudah menikah), mencambuk orang yang menuduh seorang berzinah tanpa menyertakan bukti. Hukum had ini tidak mungkin bisa ditegakkan melainkan dengan jama’ah.

Oleh karena itu Allah berfirman:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya”. (QS. Al-Maidah: 38).

Jika demikian, hukum-hukum had tidak mungkin bisa ditegakkan jika tidak melalui jama’ah. Sebagaian besar beban atau tugas Islam dalam tatanan ekonomi, kemasyarakatan, politik, dan lain-lain hanya bisa ditegakkan melalui jama’ah. Demikian pula politik luar negeri, hubungan internasional, pendirian lembaga-lembaga ekonomi Islam, pelarangan atas bank-bank yang mempraktekan sistem riba, maka semuanya itu membutuhkan kekuatan Islam untuk menerapkannya.

Melarang gambar-gambar porno di suatu negeri, melarang televisi yang menayangkan dan menyebarkan perkataan kotor serta gambar-gambar mesum di benak anak-anak yang sedang berkembang, mengarahkan koran-koran dan majalah-majalah, menyita harta orang-orang kaya yang tidak menjalankan kewajibannya mengeluarkan zakat, menetapkan hukum had bagi mereka yang menjalankan praktik riba, orang-orang yang  tamak, perampok dan pencuri. Dan lain-lain. Maka semuanya itu membutuhkan suatu jama’ah. Jika di sana tidak ada jama’ah Islam yang mencegah itu semua, maka kerusakkan akan merajalela di mana-mana, karena itu Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah, dan orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang Muhajirin) mereka itu sebagiannya sebagai pelindung bagi sebagaian yang lain. Dan orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban-kewajiban sedikitpun atas kalian melindungi mereka sampai mereka mau berhijrah. Dan jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan-urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kalian dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. Adapun seorang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kalian (wahai para muslimin) tidak berbuat seperti itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakkan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 72-73).

Maksudnya, orang-orang kafir itu sebagian menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Mereka saling bersekutu satu sama lainnya untuk menghalang-halangi akan tegaknya syariat Islam di muka bumi. Lihatlah di negeri-negeri kafir (barat) mereka satu sama lain saling bersatu dan bantu-membantu di dalam menghalang-halangi tegaknya Islam di muka bumi. Belum lagi dari kalangan orang-orang yang ragu terhadap Islam tapi mereka beragama Islam, yang tidak suka bila hukum Islam diterapkan di tempat negerinya sendiri.

Adapun kita umat Islam, bagaimana kita bisa beramar ma’ruf dan nahi munkar serta berjihad untuk menegakkan kalimat Allah itu yang hanya bisa dilakukan dengan kekuatan jama’ah, sementara dari segolongan umat Islam sendiri di dalam menerima perintah dari Tuhannya untuk merapatkan shaf dan saling menempelkan antara kaki-kaki yang satu dengan yang lainnya saja belum bisa dilaksanakan karena ketidak pahamannya di dalam menerima nash-Nya. Seharusnya dari jutaan laki-laki umat Islam yang tersebar di muka bumi bila saja satu dengan yang lainnya saling membentuk barisan, saling rapat-merapat, dan tidak ada yang boleh membusungkan dada melebihi garis lurus yang telah ditetapkan oleh iman, kemudian mereka satu sama lain saling tawadhu dan bersikap merendah diri di hadapan sesama kamu Muslim, tapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tentu wibawa umat Islam akan bangkit kembali seperti pada awalnya (fitrahnya).

Islam adalah dien yang realistis atau nyata dan praktis. Rabbil ‘alamin yang menurunkan dien ini mengetahui betul bahwa diennya tidak mungkin tegak dengan sempurna bila tidak dengan jalan jama’ah. Dan jama’ah ini harus mempunyai pemimpin yang bergelar ‘Amirul Mukminin’. Undang-undang mereka adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Sejarah telah membuktikan bahwa hanya dengan dien Islam itulah tatanan sistem kehidupan manusia menjadi baik, sempurna dan adil.

Karenanya, orang-orang pendengki (orang-orang barat/non Muslim) perna menyelidiki dengan penuh seksama tentang, ‘Apa yang menjadi rahasia kejayaan Islam dan eksistensinya dipermukaan bumi? Lalu mereka berkesimpulan bahwa ada beberapa perkara yang dapat menyatukan kaum muslimin di seluruh dunia, antara lain, Khalifah, Ka’bah, Masjid Nabawi dan jihad fi sabilillah. Selanjutnya mereka mengatakan: ‘Jika demikian halnya, maka kita perlu memfokuskan perhatian kita pada persoalan-persoalan di atas. Fokus kita yang pertama adalah meruntuhkan khilafah”.  Khalifah harus diruntuhkan, oleh karena keberadaan khilafah bagi kaum Muslimin adalah ibarat menara api (mecuar) yang memberikan lentera penerangan di malam gelap gulita. Semua orang datang dan berkumpul di sekelilingnya. Lihatlah bila kita berada di malam hari dan keadaan lampu (listrik) sedang menyala, kita bisa melihat benda-benda yang ada disekitar kita, semua dapat dilihat dengan jelas karena adanya cahaya. Tapi bila seandainya listrik mati, maka kegelapan akan menyelimuti kita dan kita tak dapat melihat apapun. Jadi , jika cahaya khalifah ini dapat kita padamkan, maka kaum muslimin akan kehilangan ‘panduan’ yang akan mengarahkan jalan mereka.

Mereka kaum kafir merasa cemas dan khawatir dengan keberadaan sistem Islam yang ada ini.

Umat Islam memiliki sistem : Khalifah, Ka’bah, Masjid Nabawi dan jihad fi sabilillah. Ka’bah adalah tempat dimana umat Islam diseluruh dunia memfokuskan perhatian kepadanya, Masjid Nabawi adalah contoh riil bagaimana Rasulullah saw. dan para sahabatnya membawa Islam pada puncak kejayaannya. Bila saja saat ini umat Islam mempunyai kekhalifahan yang akan berdiri di depan  Ka’bah untuk menyerukan “ Berjihadlah kamu hai umat Islam untuk menegakkan syariat Islam, dan perangilah orang-orang yang kafir terhadap Tuhannya!. Maka, betapa bahayanya kekuatan itu bila hal itu sampai terjadi. Islam akan berjaya kembali.!

Demikianlah selama tiga abad berturun-turut, orang-orang barat (non Muslim) memusatkan  perhatiannya kepada khilafah Islam. Mereka mencari jalan bagaimana cara meruntuhkannya. Khususnya dalam dekade dua puluh lima tahun terakhir dari abad sembila belas. Kemudian pada masa dua puluh luma tahuh pertama dari abad dua puluh, upaya menghancurkan itu mendapat klimaksnya dengan dihancurkannya khilafah Utsmaniyah dan menyingkirkan Sultan Abdul Hamid yang memegang tumpuk kekuasaan sejak tahun 1876 M hingga 1909 M beliau berkuasa tiga abad lamanya.

Sedikit gambaran tentang sistem khilafah Islam yang dipraktekan  pada khilafah Usmaniyah yang dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid. Sultan Abdul Hamid dinobatkan sebagai khalifah setelah kematian dua orang khalifah sebelumnya. Kedua khalifah itu adalah ayahanda dan pamannya sendiri. Keduanya dibunuh oleh Perdana Menteri Mid-Hat Basya’. Mid Had Basya’ adalah tokoh yang mengepalai gerakan masinisme dan mengendalikan aktifitas club-club masiniesme di Turki. Mid-Had Basya’ mendapat dukungan dari negara-negara barat dan timur dalam menjalankan program sekularisasi di negara Turki. Mereka menyebutnya sebagai bapak pembebasan.

Suatu ketika Mid-Had Basya datang menemui Sultan Abdul Hamid yang telah menyelesaikan studinya di Fakultas Syari’ah. Mid-Had Basya mengatakan kepadanya: ‘Kami bersedia menyerahkan khilafah kepada tuan sesudah kematian pamanya Abdul Aziz tahun 1876 M, asal tuan menerima satu syarat yang kami ajukan kepada tuan. Tuan harus bersedia memaklumatkan “Undang-undang”.

Sultan Abdul Hamid sebagaimana firman Allah Ta’ala adalah seorang Muslim yang tinggi: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya”. (QS. Yunus: 9).

Allah memberinya petunjuk, lantaran keimanannya. Semula beliau menerima syarat Mid-Hat Basya untuk  memaklumatkan ‘undang-undang’. Apa sebenarnya undang-undang yang diajukan tersebut? Yakni peraturan yang diambil dari undang-undang Eropa, yang mempersamakan hak orang-orang Nasrani, Yahudi dan Muslim.

Padahal sebelum itu, orang-orang Yahudi ataupun Nasrani tidak diterima kesaksiannya terhadap seorang Muslim dalam mahkamah. Mereka tidak boleh masuk dan tidak punya hak masuk dalam dinas ketentaraan. Dan ada juga peraturan-peraturan khusus yang berlaku bagi golongan Nasrani, antara lain: Ucapan salam mereka tidak boleh dijawab; mereka tidak boleh jalan di tengah, dan harus di pinggirnya; rumah mereka tidak boleh lebih tinggi dari rumah orang-orang Muslim; mereka tidak di perkenankan membawa senjata; Mereka tidak boleh menunggang kuda berpelana; Mereka tidak boleh membunyikan lonceng; Mereka tidak boleh keluar pada hari-hari besar mereka; Jika ada salah seorang diantara mereka berkendaraan dan kemudian berpaspasan dengan seorang Muslim, maka dia harus turun dari kendaraannya. Sebab dia tidak boleh lebih tinggi dari seorang Muslim, maka dia harus turun dari kendaraannya. Beginilah keadaannya mereka di tengah-tengah masyarakat Muslim pada masa pemerintahan daulah “Ustmaniyah” sebelum berlakunya undang-undang tersebut. Karena memang seharusnya demikianlah ummat Muslim mempelakukan mereka orang-orang kafir: Dalam arsip daulat “Ustmaniyah” ditemukan data kematian seorang Nasrani. Mereka menulisnya: “Telah mati seorang kafir”, sebagai ganti dari kalimat: “Telah mati seorang Nasrani”.

Mereka hanya mengenal dua pasport perjalanan. Pasport kebangsaan Muslim dan satunya lagi pasport kebangsaan kafir. Mereka tidak mengenal kebangsaan Inggris, Prancis, atau Mesir, atau Arab, atau Turki dan sebagainya, yang mereka kenal hanya dua, yakni: Kebangsaan Muslim atau kebangsaan kafir.

Setelah khalifah jatuh pada tanggal 3 Maret 1924 M, Orang-orang Eropa mengatakan: Ada satu masalah penting yang tidak mungkin kami diamkan dan tidak mungkin kami biarkan dalam kondisi yang bagaimana pun juga. Yakni: Upaya kaum Muslimin untuk mengembalikan khilafah Islam. Rintisan apa pun atau sekelompok Islam manapun yang mengajak umat Islam untuk menegakkan Khilafah Islam di muka bumi, harus dibasmi sampai ke akar-akarnya dan harus ditumpas habis.

Seorang Palestina datang membawa pasport, bagian luarnya tertulis: ‘Daulah Al ‘Ulya Al Islamiyah’ atau Daulah ‘Ustmaniyah’ sedangkan dalamnya tertulis kebangsaan Muslim. Orang-orang Armenia, Rusia, Austria, Serbia, Bulgaria, Rumania dan negara-negara yang tunduk pada kekuasaan Daulah  ‘Islamiyah’ semuanya diberi pasport. Bagian pasport mereka tertulis ‘Kebangsaan Kafir’, yang demikian itu membuat mereka marah dan geram.

Dahulu orang-orang  Rusia datang menyerahkan jizyah (pajak kepala) kepada pemerintah Daulah ‘Ustmaniyah’. Mereka memberikkan Jizyah tersebut dengan patuh sedang mereka dalam keadaan terhina. Sebagian ulama memberikan fatwa bahwa orang kafir yang menyerahkan jizyah kepada kaum Muslimin harus menjauhkan dirinya pada saat menyerahkan jizyah. Tentu saja yang demikian itu membuat mereka mendendam rasa kemarahan. Demikianlah seharusnya mereka diperlakukan oleh umat Muslim, karena sesungguhnya mereka itu hina dan najis dan seorang Muslim adalah mulia dan ditinggikan derajatnya, karena itu syariat agama melarang umat Islam berendah diri dihadapan orang-orang kafir. Allah Swt. berfirman: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali-Imran: 139).

Mereka sangat geram karena sultan Muhammad al-Fath menaklukkan ibu kota Romawi timur, ibu kota negara Caesar Heraclius. Kemudian setelah penaklukkan itu Sultan Muhammad Al-Fath meluaskan wilayah kekuasaannya ke benua Eropa. Kemudian Yunani dia taklukkan, lalu Serbia, lalu Bulgaria, lalu Yugoslavia, lalu Albania, lalu…, lalu… dan seterusnya hingga Islam berkendak masuk ke seluruh bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah Swt. tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.

Sampai hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah, sehingga tidak ada lagi Al-Latta dan Al- ‘Uzza atau tuhan-tuhan kecil atau makhluk apa pun yang di-thagut-kan, kecuali hanya Allah semata saja yang disembah.

Bahkan wilayah Rusia sendiri waktu itu tinggal sedikit yang belum dikuasai. Semuanya berhasil ditaklukkan kaum muslimin. Yang tertinggal hanya kota Moskow saja. Sejak itu Moskow membayar Jizyah kepada kamum Muslimin.

Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa khilafah merupakan sumber kekuatan ummat Islam, karena itu harus dihancurkan. o

Selesai, 15 December 2005, kenang-kenangan dari KUPANG.