PERBEDAAN SEORANG MUSLIM DAN SEORANG KAFIR
Setiap muslim yakin dan percaya bahwa muslim berbeda dengan yang bukan muslim (kafir), bahwa seorang muslim lebih tinggi derajatnya daripada seorang kafir. Allah mencintai orang muslim dan membenci orang kafir; bahwa orang muslim akan memperoleh ampunan Tuhan; bahwa orang muslim akan masuk surga, sementara orang kafir akan masuk neraka.
Marilah kita pikirkan sunguh-sungguh, mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang muslim dan seorang kafir. Padahal seorang kafir juga keturunan Adam seperti kita semua. Ia juga seorang manusia sama seperti kita. Ia juga punya tangan, kaki, mata dan telinga, seperti kita semua. Dan sebagaimana kita semua, ia pun bernapas dengan udara yang sama, minum air yang sama, dan hidup di bumi yang sama. Allah yang menciptakan kita semua dan mereka. Maka, kenapa derajatnya rendah dan derajat kita tinggi? Mengapa kita semua nanti akan masuk surga dan dia masuk neraka ?
Perbedaan yang begitu besar antara seorang muslim dan seorang kafir tidaklah terletak pada, misalnya karena kita bernama Abdullah atau Abdurrahman, sedangkan orang lain bernama Kartar Singh, Simth dan Roberston. Tidak juga karena muslim dikhitan sedangkan orang kafir tidak.. Juga bukan karena seseorang tidak memakan daging babi dan yang lain memakannya. Allah yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan alam seluruh manusia dan memberinya rezki, tidak mungkin bertindak demikian kejam, mendiskriminasikan antara makhluk-Nya, hanya karena soal-soal kecil seperti itu dan memasukkan hamba-Nya satu ke surga sedang yang lain ke neraka.
Jika demikian, dimana perbedaan sesungguhnya antara muslim dan kafir? Jawabannya adalah terletak pada sifat Islam dan kafir itu sendiri. Islam berarti patuh kepada Tuhan, sedangkan kafir sebaliknya, ingkar kepada Tuhan. Muslim dan kafir adalah sama-sama manusia, sama-sama hamba Tuhan. Tetapi yang satu mulia dan berguna, dan dengan akalnya mengetahui Tuhannya, mengikuti perintah-perintah-Nya dan takut akan konsekuensi yang bakal diterima bila melanggarnya. Sedangkan orang kafir menodai dirinya dengan tidak mengenal Tuhan dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Itulah mengapa Allah senang kepada orang-orang muslim dan tidak suka kepada orang-orang kafir. Allah berjanji kepada orang-orang muslim sejati bahwa Dia akan memasukkan ke dalam surga, dan sebaliknya memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak beriman bahwa mereka akan dilemparkan ke dalam neraka.
SEBAB PERBEDAAN SESEORANG ADA PADA PENGETAHUAN DAN TINDAKAN
Dari uraian di atas jelaslah bahwa ada dua hal yang membedakan seorang muslim dengan seorang kafir, adalah “PENGETAHUAN DAN TINDAKAN”. Ini berarti pertama-tama kita harus mengetahui siapa Tuhan kita, apa perintah-perintah-Nya, bagaimana mengikuti apa yang dikehendaki-Nya, perbuatan apa yang diridhai-Nya dan apa yang tidak. Jika semua ini diketahui, maka hal kedua adalah berupaya menjadi hamba yang benar dihadapan Tuhan dengan memisahkan keinginan-keinginan kita sendiri dari apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Jika kita hendak melakukan sesuatu perbuatan tertentu dan itu berlawanan dengan tuntunan-Nya, yang harus kita lakukan adalah yang diperintahkan Tuhan. Jika menilai sesuatu hal adalah baik, padahal menurut Tuhan justru sebaliknya, kita harus yakin bahwa itu memang buruk. Demikian juga sebaliknya, mungkin kita menilai sesuatu adalah buruk, padahal itu baik menurut Tuhan, kita harus menganggapnya sebagai hal yang baik. Jika kita menganggap bahwa melakukan tindakan-tindakan tertentu bahaya, padahal Tuhan mewajibkannya, kita harus melakukan sekalipun mungkin hal itu akan membawa kepada kematian ataupun kemiskinan pada diri kita.
Demikian juga, jika kita mengharapkan keuntungan dari perbuatan yang kita lakukan, padahal Tuhan melarangnya, kita harus menjauhinya sekalipun itu mungkin menjadikan kita kaya raya. Inilah pengetahuan dan tindakan yang menjadikan orang muslim sebagai hamba Allah dengan aman, dimana Dia menjanjikan rahmat-Nya dan pahala berupa kehormatan dan martabat yang tinggi. Sebaliknya, orang kafir, karena tidak memiliki pengetahuan ini, menjadi hamba yang tidak patuh dan, karena itu tidak memperoleh rahmat-Nya.
Sekarang, jika kita merasa diri kita sebagai muslim, sementara di dalam kenyataannya tidak memiliki pengetahuan dan ingkar sebagaimana orang kafir, bisakah kita menjadi lebih tinggi derajatnya dari pada orang kafir. Meskipun nama kita, pakaian kita, dan makanan yang kita makan berbeda dari mereka. Berhakkah kita akan rahmat Tuhan di dunia dan di akhirat. Islam bukanlah agama ras atau keluarga yang keanggotaannya diwarisi dari orang tua. Seorang anak raja yang memiliki kasta tertinggipun tidak lebih baik di mata Tuhan jika ia melakukan perbuatan yang salah hanya karena ia berasal dari keluarga raja. Tuhan juga tidak pernah menganggap hina mereka yang berasal dari keluarga berkasta rendah, lalu tidak memperdulikan amal baiknya. Tentang hal ini Allah menegaskan :

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian adalah orang yang paling bertakwa”. (QS. Al-Hujurat 49:13).
Ini berarti orang yang lebih mengenal Tuhan dan yang paling patuh kepada perintah-perintah-Nya adalah lebih baik dan terhormat dalam pandangan-Nya. Ibrahim as. Dilahirkan dalam keluarga penyembah berhala, namun dia mentaati Tuhan dan melaksanakan segala perintah-Nya. Inilah mengapa Tuhan menjadikan sebagai seorang pemimpin bagi seluruh dunia. Sementara anak nabi Nuh, dilahirkan dari keluarga seorang nabi, namun dia tidak mengenal Tuhan dan melanggar perintah-perintah-Nya. Sekalipun berasal dari keluarga terhormat, keluarga Nabi, Tuhan tetap menghukumnya. Dan ini menjadi pelajaran bagi umat manusia. Oleh sebab itu, perbedaan antara satu orang dengan orang lain dalam pandangan Allah terletak pada ‘pengetahuan dan tindakkannya’. Baik di dunia maupun di akhirat, karunia Tuhan akan diberikan hanya kepada mereka yang mengenal-Nya, mengikuti jalan lurus yang ditunjukan-Nya, dan melakukan segala perintah-Nya. Sedang orang yang tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik ia bernama Abdullah, Abdurrahman, Kartar Singh, Smith atau Roberston, adalah sama dihadapan Tuhan, mereka tidak akan memperoleh karunia-Nya.
MENGAPA SEORANG MUSLIM TERHINA SEKARANG INI?
Kita memang merasa sebagai muslim dan yakin bahwa Allah akan menunjukkan karunia-Nya kepada setiap muslim. Tapi bukalah mata kita, dan lihatlah di sekeliling kita, apakah dalam kenyataannya kita memperoleh karunia itu ? kita tidak pernah tahu apa yang akan kita alami di akhirat, dan yang kita tahu di dunia ini hanyalah kondisi sekitar kita sekarang.
Adapun beratus-ratus juta jumlah umat Islam di dunia ini, yang jika masing-masing melemparkan satu kerikil saja akan terbentuk sebuah gunung.
Tetapi, meski jumlah umat dan pemerintah Islam sangat banyak, dunia berada di tangan orang-orang yang melawan perintah-Nya. Umat Islam berada dalam cengkraman mereka, berada dalam dalam pojok-pojok yang mereka kehendaki. Kepala kita yang seharusnya tidak kita tundukan kepada selain Allah, sekarang tunduk kepada sesama manusia. Kehormatan yang mestinya tidak boleh seorangpun menyentuhnya, sekarang telah terinjak-injak. Tangan-tangan kita yang selalu terangkat tinggi (ketika shalat), kini rendah dan terbelenggu di depan musuh. Kebodohan, ketergantungan, kemiskinan dan banyaknya hutang telah membuat kita terhina dimana-mana. Apakah ini karunia Allah ? Jika bukan agaknya lebih merupakan kemarahan-Nya. betapa anehnya, justru umat Islam-lah yang mengalaminya. Kita adalah muslim yang kini berada dalam keterhinaan. Kita muslim tetapi menjadi budak.
Situasi ini tidak akan terjadi kalau umat Islam patuh menjalankan perintah-Nya. Jika muslim adalah satu-satunya yang dicintai Tuhan, bagaimana mereka bisa berada di dalam kondisi yang memalukan ? Apakah Tuhan tidak adil, sehingga meski sebagian dari kita memenuhi hak-Nya dan mematuhi perintah-perintah-Nya, Dia membiarkan orang-orang yang membangkang menguasai kita, dan kenapa Dia menghukum kita padahal kita patuh kepada-Nya. Jika kita yakin Tuhan itu adil dan kepatuhan kepada Tuhan bukanlah yang menyebabkan keterhinaan kita, maka kita harus mengakui bahwa ada yang salah pada diri kita sebagai orang Islam. Meski dalam KTP kita tercatat sebagai pemeluk Islam, Allah sama sekali tidak melihat apa yang tertulis dalam secarik kertas seperti itu. Dia memiliki daftar sendiri bagi orang-orang yang patuh maupun yang ingkar, dan musti dalam daftar inilah kita harus menemukan posisi kita yang sesungguhnya.
Allah telah menurunkan Al-Qur’an sehingga kita bisa mengenal-Nya dan belajar bagaimana mematuhi perintah-perintah-Nya. Pernahkah kita mencoba untuk berusaha menemukan apa yang terdapat didalamnya ? Allah mengutus Nabi Muhammad saw. untuk menuntun kita menjadi muslim. Pernahkah kita berupaya untuk mengikuti apa yang beliau tuntunkan ? Allah telah memberitahukan jenis-jenis perbuatan-perbuatan yang akan merendahkan manusia di dunia dan di akhirat. Sanggupkah kita menghindari perbuatan-perbuatan tersebut ? Apa jawaban kita ? Jika kita tidak mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Serta tidak mengikuti jalan yang di ajarkan oleh Nabi saw. Bagaimanakah kita bisa mengaku sebagai muslim dan mengharapkan pahala-Nya ? balasan yang kita peroleh di dunia tergantung bagaimana menjadi muslim yang baik. Demikian pula balasan di akhirat.
Telah kita bahas bahwa perbedaan antara muslim dan kafir terletak pada pengetahuan dan tindakan. Orang yang merasa sebagai muslim tetapi pengetahuan dan tindakannya sama dengan orang kafir adalah ‘munafik’. (Lihat Bab ‘Munafik’ oleh Ibnul Qayyim).
Orang kafir tidak bisa membaca Al-Qur’an dan tidak memahami apa yang tertulis di dalamnya. Jika orang muslim dan orang kafir sama—sama tidak tahu, bagaimana seseorang bisa disebut muslim ? Orang-orang kafir tidak mengetahui ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw. dan jalan lurus yang dituntunkannya untuk menuju Tuhan, jika seorang muslim juga tidak mengetahui hal ini, bagaimanakah dia disebut muslim? Orang-orang kafir mengikuti ‘hawa nafsu’, mereka alih-alih perintah Allah, Jika seorang muslim ingkar dan tidak disiplin serta mendasarkan ide dan pandangan pada hawa nafsu, bagaimanakah mereka disebut muslim ? Orang kafir tidak membedakan halal dan haram dan memperbolehkan segala hal, tidak soal apakah itu halal ataukah haram. Jika seorang muslim juga melakukan hal demikian, apa bedanya muslim dan kafir ?
Jika seorang muslim tidak memiliki pengetahuan mengenai Islam dan melakukan segala hal yang dilakukan oleh orang kafir, bagaimanakah mereka bisa disebut lebih tinggi derajatnya dari orang kafir ? Pertanyaan ini mesti kita renungkan dengan serius.
Saya sama sekali tidak bermaksud menganggap orang Islam sebagai kafir. Ini bukan maksud saya. Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing, mengapa kita dijauhkan dari karunia Tuhan ? Mengapa kita miskin dan sengsara dalam berbagai hal ? Mengapa kita berpecah belah dan dan saling membunuh ? Mengapa orang-orang disebut kafir mendominasi kita, sementara yang mengklaim sebagai hamba-Nya yang patuh, justru menjadi budak dalam banyak hal di dunia ini ?
Semakin saya merenungkan atas situasi-situasi ini, saya semakin yakin bahwa ‘nyaris’ perbedaan antara orang Islam dan kafir hanyalah sebatas perbedaan nama. Kita sama-sama membangkang pada Tuhan, tidak takut kepada-Nya dan sama-sama tidak mematuhi-Nya.
Saya katakan ‘nyaris’ karena memang ada perbedaan-perbedaan di antara keduanya. Kita tahu bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci Tuhan, sedangkan orang kafir tidak mengetahuinya. Hanya saja kita mengabaikannya sebagaimana orang kafir mengabaikan. Inilah yang membuat kita terhukum. Kita tahu bahwa Muhammad saw. Adalah Rasul Allah, namun kita tidak mematuhi tuntunan beliau seperti orang kafir. Kita tahu bahwa Tuhan membenci pendusta, mengancam orang yang menerima dan memberi suap dengan siksa neraka, mencela orang yang memakan riba, menyamakan orang yang mengumpat seperti makan daging saudaranya, dan memperingatkan bahwa perbuatan cabul, pornografi dan kebejatan moral lain akan dibalas dengan siksa, namun mesti kita mengetahui semua ini, kita tetap melakukannya dengan bebas tidak takut akan kemarahan Tuhan.
Inilah kenapa kita tidak diberi karunia. Kita muslim hanya dalam lahiriah saja, kenyataannya bahwa orang-orang yang tidak menerima kedaulatan Tuhan menguasai kita dan membuat kita terhina dalam segala kesempatan menunjukan bahwa kita dihukum sekalipun mengenal Islam, karunia terbesar Tuhan kepada kita. Tujuan saya adalah untuk memberi semangat agar kita menemukan kembali kekayaan yang telah hilang. Adalah semangat itu muncul pada saat seseorang benar-benar menghargai apa yang telah hilang tersebut dan betapa tinggi nilainya.
Saya berbicara dengan kata-kata yang tajam dan keras agar kita semua berpikir dan bangkit.
MINAT TERHADAP PENGETAHUAN (ILMU)
Untuk menjadi muslim sejati, sebagaimana telah dikatakan di atas, hal yang penting adalah pengetahuan tentang Islam. Setiap muslim mesti mengetahui ajaran-ajaran Al-Quran yang cara-caranya telah ditunjukan oleh Nabi Muhammad saw. Apa itu Islam dan apa yang membedakan Islam dengan kekafiran. Tak seorangpun bisa menjadi seorang muslim tanpa mengetahui hal ini. Ini menandakan bahwa selama kita tidak merealisasikan karunia terbesar ini, kita akan kehilangan kemusliman kita.
Seorang Ibu baru akan memberikan susu kepada bayinya manakala si bayi menangis dan memintanya. Ketika seseorang haus dan memerlukan air, Tuhan memberinya. Jika kita tidak menyadari akan adanya rasa haus, tidak ada gunanya air disediakan kehadapan kita. Kita terlebih dahulu harus menyadari rasa kehilangan dengan ketidak mengertian kita akan Islam. Benar Kitab Suci ada ditangan kita, namun kita tidak mengetahui apa yang tertulis di dalamnya.
Demikian pulula, kita juga tidak pernah memahami kalimat tauhid ”la illaha-illallahu-Muhammada rasullulah” (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah), meskipun ribuan kali telah sering terucapkan. Ataukah kita tidak pernah mencoba memahami makna dari kalimat tersebut ?. Adakah rasa kehilangan yang lebih besar dari yang terakhir ini?
Kita menyadari kerusakan akibat terbakarnya tanaman. Kita menyadari penderitaan akibat tidak adanya penghasilan. Kita menyadari kerugian akibat hilangnya hak milik. Namun kita tidak menyadari akan hilangnya pengetahuan Islam. Kalau saja kita menyadari hal ini, tentu kita akan terselamatkan. Dan jika kita melakukan hal ini Insya Allah kita akan dikaruniai rahmat terbesar itu.
PERLAKUAN KITA TERHADAP AL-QURAN
Umat Islam adalah satu-satunya ummat yang paling beruntung di dunia sekarang ini, karena mereka memiliki Wahyu Allah yang terpelihara dalam keadan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur tangan manusia. Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih persis sama dengan ketika ia diturunkan kepada Rasulullah saw. Namun ummat Islam ini juga adalah orang yang paling malang di dunia, karena, walaupun mereka memiliki Wahyu Allah tetapi mereka tidak dapat memperoleh berkat dan manfaat Wahyu Allah tersebut, yang sebenarnya tak terhitung banyaknya itu. Al-Quran di turunkan Allah kepada mereka agar mereka membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut petunjuknya. Dan dengan pertolongan Kitab ini, mereka disuruh menegakkan pemerintahan di muka bumi Allah ini yang berfungsi sesuai dengan hukum Allah. Al-Quran datang untuk memberikan kebesaran dan kekuasaan. Ia datang untuk menjadikan mereka wakil Allah yang sejati di bumi ini. Dan sejarah telah membuktikan bahwa bilamana mereka (ummat Islam) berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Kitab ini, maka Kitab ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka imam dan pemimpin di dunia. Tapi, sekarang kegunaan al Quran bagi mereka hanyalah untuk di simpan di rumah-rumah untuk mengusir jin dan hantu. Ayat-ayatnya dijadikan bandul dan kalung atau isi air dan diminum, atau di baca sekedar untuk mengharapkan pahala tanpa upaya memahami maknanya. Terlebih lagi, tidak ada upaya untuk menjadikan sebagai pedoman dalam kehidupannya.
Sedikit upaya umat Islam untuk mencari bimbingannya mengenai ke-imanan-nya, moral dan tindakkan yang harus dilakukan. Juga tidak diijelajahi bagaimana mestinya kita melakukan transaksi, bagaimana prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam hubungan dengan musuh dan teman, apa hak-hak umat Islam itu sendiri. Umat Islam juga tidak mengkaji apa yang benar dan apa yang salah yang dinyatakan oleh Al-Quran. Siapa kawan dan siapa yang musuh. (wala’ dan bara’). Dimana letak kehormatan, martabat dan karunianya, hal-hal apa saja yang membuat umat Islam terhina, gagal dan mengalami kemunduran.
Ringakasnya banyak umat Islam telah melalaikan dan tidak memperdulikan, atau mengacuhkan Al-Quran. Berkenaan dengan hal ini, Rasulullah saw. Pernah mengeluhkan dan mengadukan kepada Tuhannya tentang sikap dari umat Islam sendiri yang telah banyak mengacuhkan dan tidak memperdulikan Kitab suci Al-Quran:
“Berkata Rasul : “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS.25 Al-Furqan :30).
Atau dengan tidak kita sadari, kita mengakui diri orang Islam. Al-Quran kita baca dan kita lagukan dengan tajwid yang baik, tetapi isinya tidak kita fahamkan dengan seksama. Lalu datang orang menyerukan kebenaran, supaya kita benar-benar kembali kepada ajaran Rasul. Hati kecil mengakui kebenaran itu, tetapi di tolak dengan keras karena diri tersinggung, karena dengki, karena merasa ‘dilintasi’,
Atau, Agama Islam telah kita terima dalam keseluruhannya dan telah kita namai dia agama kita. Ada di antara orang Islam yang marah dan merasa dihina kalau dikatakan kafir. Tetapi amal Islam tidak dikerjakannya, dan jika diajak kepada ajaran Islam dia marah. Apakah ini akan dapat murka Tuhan pula dengan dicap hati dan pendengarannya? Dan penglihatannya ditutup dan diselebungi.
Tahu akan kebenaran tetapi tidak mau mengakuinya; ialah ciri kafir yang terbanyak di zaman Nabi saw. Adapun kafir di zaman kita ini, yang hampir sama dengan itu ialah orang-orang yang menyatakan bahwa Islam itu hanya agama untuk orang Arab, bukan untuk bangsa lain. Atau berkata bahwa agama itu hanya untuk ibadat kepada Allah saja, sedang peraturan-peraturan Islam yang mengenai masyarakat, tidaklak sesuai lagi dengan zaman, wajib dirobek samasekali.
Ada lagi semacam orang Islam yang tidak mau tahu apa kebenaran itu dan tidak perduli, tidak cinta. Tiap-tiap diseru kepada kebenaran, tiap itu pula dia menjauh. Terdengar seruan ditutupnya telinganya, nampak kebenaran di picingkan matanya. Sebab matanya sudah tidak dibiasakan menentang (menatap) cahaya itu, maka silaulah dia bila bertemu dengan dia. Yang diketahuinya hanyalah asal perut berisi, asal selera lepas, asal dapat hidup.
Inilah bentuk-bentuk dari ‘pengacuhan’ kepada kitab Al-Qur’an

“Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka-muka orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah : “Apakah aku akan kabarkan kepadamu yang lebih buruk dari itu, yaitu neraka ?. Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” (QS.22 Al-Hajj:72).
Adapun orang-orang beriman, apabila kepadanya dibacakan ayat-ayat Allah:

“Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS.Al-Anfal :2-4)
KONTRADIKSI MEMBINGUNGKAN
Tindakan umat Islam yang mempermainkan Kitab Suci Al-Quran benar-benar menyedihkan, sampai-sampai jika kita melihat seseorang yang melakukan hal itu dalam kehidupannya, kita akan memperolok-oloknya, bahkan menyebutnya orang gila. Apa yang akan kita katakan kepada seseorang yang meminta resep dokter dan menjadikan resep itu sebagai kalung atau melilitkannya pada celana atau menaruhnya dalam mangkuk air yang berisi air kemudian meminumkannya ? Tidakkah kita menertawakannya dan menyebutnya sebagai orang bodoh? Namun inilah yang kita lihat. Resep hebat yang diberikan oleh seorang dokter ahli sekedar untuk menyembuhkan penyakit yang riingan, dan tak seorang pun yang tertawa. Tak seorang pun merenungkan bahwa resep itu bukan untuk dibikin kalung atau dicelupkan ke dalam air untuk kemudian diminum airnya.
Apa pendapat kita jika ada seseorang yang sakit membuka-buka buku tentang pengobatan, kemudian membacanya, mempercayainya dan yakin bahwa hal itu akan menyembuhkannya ? Bukankah kita menganggapnya sebagai orang gila ? Namun, seperti inilah yang dilakukan umat Islam terhadap Al-Quran yang di wahyukan oleh Sang Penyembuh untuk mengobati segala macam penyakit. Kita mengira bahwa hanya dengan dengan membuka-buka buku seluruh halaman Al-Quran, penyakit kita akan hilang tanpa mengikuti arahan-arahannya, atau menghindari hal-hal yang bisa membahayakan. Bukankah kita sama saja dengan mereka yang menganggap bahwa dengan membaca buku tentang pengobatan akan menyembuhkan penyakit ?.
Jika kita menerima surat ‘bisnis’ yang ditulis dengan bahasa yang kita tidak ketahui, kita akan membawanya kepada seorang yang tahu dan mengetahui isinya. Kita akan terus khawatir dan cemas sampai mengetahui apa yang dikatakannya, meskipun surat itu hanya memberikan sedikit keuntungan saja. Namun, surat yang dikirim kepada kita oleh Tuhan adalah yang dapat memberikan keuntungan dunia dan akhirat kita campakkan sembarangan. Kita tidak menunjukkan kegelisahan meski tidak mengetahui isinya, bukankah hal ini mengherankan ?
Demikianlah, Kitab Suci Al-Qur’an adalah sebuah kumpulan surat-surat yang dikirim dari Tuhan kepada umat manusia untuk dibaca dan dimengerti isinya. Karenanya, ketika pertama kalinya diturunkan kepada Rasul-Nya, Muhammad saw. dengan memakai bahasa kaumnya, yakni bahasa Arab, karena Rasul dan kaumnya adalah orang-orang Arab, hingga mereka dapat mudah mengerti dan memahami isinya:
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf, 43:3)
“Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab..” (QS. Ar-Ra’ad, 13: 37).
“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.” (QS. Ibrahim, 14: 4).
“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. Thaahaa, 20: 113)
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab.” (QS. Asy Syu’araa, 26: 192-195).
“(Inilah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (QS.Az-Zumar, 39: 28)
“Kitab yang di jelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahuinya.” (QS. Fushshilat, 41: 3).
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?”. Apakah (patut Al-Qur’an) dalam bahasa asing sedang (rasul adlaah ornag) Arab?. Katakanlah: “Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat jauh.” (QS. Fushshilat, 41: 44).
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (pendduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tida ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (QS. Asy Syuura, 42: 7).
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)”. (QS. Az-Zukhruf, 43: 3)
“Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ahqaaf, 46: 12)
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusus, 12: 2).
Dijadikan bahasa Al-Qur’an itu dengan bahasa kaumnya dengan maksud agar mereka mudah mengerti dan memahami isinya.
Apa pendapat Anda bila ada seseorang membaca sebuah surat sementara ia sendiri tidak mengetahui akan bahasa dari surat tersebut dan ia pun tidak berusaha untuk membawa surat tersebut kepada orang yang tahu dan mengetahui artinya, walaupun di zaman sekarang telah banyak Kitab Al-Qur’an yang telah diterjamahkan artinya kedalam berbagai bahasa kaumnya.
Dibacanya surat tersebut dan berharap dengan membacanya maka ia akan mendapatkan berkah dan rahmat darinya, Terkadang untuk menghormati keagungan dari surat tersebut, sebab ia tahu bahwa surat ini dikirim dari Tuhannya, dilakukanlah adab-adab sopan santun sebelum membacanya. Misalnya dengan melakukan wudhu terlebih dahulu agar diri menjadi bersih dan tersucikan, kemudian berdoa, setelah itu mulailah ia membaca surat itu dengan hati-hati dan penuh khusu’. Terkadang agar tidak salah dalam membacanya.Diperhatikannya huruf perhuruf, lafazh per lafazh Terkadang suaranya terdengar pelan mendayu, terkadang keras. Terkadang sesekali-kali dengan sebuah irama lagu-lagu..
Selesai membaca, ada perasaan tenang, tenteram dan damai di dalam jiwanya walaupun ia sendiri tidak mengetahui arti dari apa yang dibacanya. Karenanya keesokkan harinya atau pada waktu-waktu yang lain, diulanginya lagi pembacaan surat tersebut. Terkadang ia beralih pada surat-surat lain yang belum pernah dibacanya.Walaupun surat yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahaminya. Hal ini terus dilakukannya tanpa ada usaha untuk mencari tahu dan memahami akan isi surat tersebut. Malah terkadang dibawanya surat tersebut kepada teman-temannya yang juga sama-sama tidak mengetahui akan bahasa surat tersebut, kemudian mereka bersama-sama saling bergantian dalam membaca, dengan harapan agar bila dibacanya secara bersama-sama akan mendatangkan berkah yang lebih banyak kepada dirinya
Adalah yang membacakan dan yang mendengarkan sama-sama tidak mengerti nahasa dari surat tersebut, Tapi semua tetap mendengarkannya dengan khusu’ dan penuh keseriusan. Suasana hening, diam dan tenang memenuhi ruangan dimana ayat-ayat Allah dibacakan membuktikan akan kekushu’an mereka. Hingga selesailah surat tersebut dibacakan. Maka setelah itu, terlihatlah pada mata mereka sebuah tatapan kosong dan jauh..! tanda tidak mengerti..!
Padahal Allah telah berfirman dan memerintahkan untuk kita agar apabila Al-Qur’an dibacakan, maka dengarlah baik-baik dan pahamilah isinya:

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah (baik-baik) dan perhatikanlah ( dengan tenang) agar kamu diberi rahmat.” (Al-A’raf 7:205)
Maksudnya, perhatikanlah isinya dan pahamkanlah baik-baik dan tenangkanlah suasana hati agar makna-makna dari ayat-ayat tersebut bisa kita pahami dan bisa diresapi di hati, hingga bisa menimbulkan sentuhan dan getaran keimanan pada diri kita. Kemudian apabila penjelasan, petunjuk dan pengetahuan telah diperoleh dari kitab suci (Al-Quran) maka selanjutnya kita berharap akan memperoleh rahmat berupa hidayah taufik (penerimaan hati terhadap petunjuk itu), maksudnya; penanaman iman dalam hati, cinta terhadap iman, dijadikan-Nya iman itu indah dalam hati, menimbulkan pengaruh dan motivasi, ridha terhadap keimanan dan gemar kepadanya. Kemudian setelah itu kita berharap akan mendapatkan rahmat berupa pemberian ilham kepada kita terhadap keimanan itu, dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang berkeingingan untuk mengikutinya secara lahir dan batin. Kemudian menciptakan kemampuan dalam diri kita untuk dapat melaksanakan petunjuk (hidayah) ini dengan ucapan, perbuatan, tekad dan kemauan yang kuat, kemudian dikekalkan-Nya hal itu untuk kita dan dimantapkan-Nya kita pada kebenaran itu hingga kita meninggal dunia. Demikianlah sikap orang-orang beriman apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka:

“Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka, itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” (QS.Al-Anfal :2-4)
AKIBAT PERLAKUAN YANG ZALIM TERHADAP KITAB ALLAH
Bila kita renungkan, Sekarang ini Kitab Allah sedang mengalami perlakuan yang zalim di dunia ini, dan pelaku-pelakunya adalah orang yang menyatakan sendiri beriman kepadanya dan bersedia mati untuk membelanya. Tak syak lagi mereka memang beriman kepadanya dan menganggapnya lebih berharga daripada hidup mereka sendiri; tetapi sayangnya mereka sendirilah yang memperlakukannya dengan perlakukan yang zalim. Hendaklah kita pahami benar-benar bahwa, Kitab Allah tidaklah diturunkan kepada manusia untuk menjerumuskannya ke dalam jurang kecelakaan, kemalangan dan penderitaan.

“Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada (Allah).” (QS.Thaha, 20:2-3).
Al-Quran adalah sumber kebahagian dan nasib baik, bukannya sumber kejahatan dan kesengsaraan. Tidak mungkin suatu ummat yang memilki Wahyu Allah hidup dalam penderitaan di dunia ini, diperbudak, diinjak-injak dan ditendang oleh orang lain, dicengkam tengkuknya dan dicocok hidungnya dan dituntun kearah mana saja yang disukai orang lain tersebut. Suatu ummat hanya akan mengalami hal seperti ini bila mereka memperlakukan Kitab Allah secara zalim. Lihatlah nasib Bani Israil terpampang di hadapan kita. Taurat dan Injul diturunkan kepada mereka dan dikatakan :

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan Al-Quran, yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS.al-Maidah, 5:66)
Tetapi mereka memperlakukan Kitab-kitab Allah tersebut, dengan cara yang zalim dan mereka memperoleh balasan perbuatan itu :
“…Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.” (QS. Al-Baqarah, 2:61)
Karena itu bila suatu ummat memiliki Kitab Allah, namun mereka hidup dalam kehinaan dan diperbudak oleh orang-orang lain, maka anda boleh memastikan bahwa hal itu adalah karena mereka memperlakukan Kitab Allah dengan cara yang zalim, dan apa yang mereka alami itu adalah hukuman atas perbuatan mereka itu. Tidak ada jalan lain dari menyelamatkan diri dari murka Allah, selain menghentikan kezaliman tersebut dan memperlakukan Kitab Allah dengan semestinya. Bila Anda semua tidak berhenti dari berbuat dosa yang besar ini, maka hidup anda tidak akan berubah meskipun anda mendirikan berbagai perguruan tinggi di setiap desa dan anak-anak anda semua menjadi sarjana, dan anda, seperti orang-orang Yahudi, menjadi jutawan-jutawan dengan jalan riba.
SIAPAKAH YANG DINAMAKAN MUSLIM?
Hal pertama yang harus diketahui oleh setiap Muslim ialah, Siapakah yang dinamakan muslim dan apa artinya menjadi seorang muslim? Bila seorang manusia tidak tahu apa yang disebut manusia dan apa perbedaan antara manusia dan binatang, tentulah ia akan melakukan perbuatan-perbuatan seperti binatang dan tidak menghargai dirinya sebagai seorang manusia. Sama halnya, bila seorang muslim tidak tahu arti yang sebenarnya dari menjadi muslim dan apa bedanya seorang muslim dengan seorang yang bukan muslim, maka ia akan berbuat seperti seorang yang bukan muslim dan tidak akan merasakan kebanggaan menjadi seorang muslim. Karena itu setiap muslim dan anak dari setiap muslim harus diajar apa artinya menyebut dirinya sebagai muslim, dan perbedaan apa yang timbul dalam kedudukannya sesudah ia menjadi muslim. Tanggub-jawab apa yang dipikulkannya dan batas-batas apa saja yang diberikan oleh Islam supaya seseorang tetap dapat dianggap seorang muslim dan apabila ia melanggar batas-batas tersebut tidak dapat lagi disebut seorang muslim, meskipun ia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang muslim.
MAKNA ISLAM
Islam bermakna : Kepatuhan dan kerajinan menjalankan kewajiban kepada Allah. Islam bermakna memasrahkan diri kepada Allah. Islam bermakna mengorbankan kebebasan dan kemerdekaan diri sendiri demi Allah. Islam bermakna menyerahkan diri di bawah kekuasaan kerajaan dan kedaulatan Allah. Seseorang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah adalah seorang Muslim. Dan seorang yang mempercayakan urusan-urusanya kepada dirinya sendiri atau kepada siapa pun selain Allah bukanlah seorang muslim. Mempercayakan segala urusan kepada Allah berarti menerima bimbingan Allah yang diberikan melalui Kitab Suci-Nya dan bimbingan yang diiberikan oleh rasul-Nya, dengan tidak mengajukan keberatan sedikitpun kepada keduanya. Selanjutnya hanya hanya al Quran dan Sunnah Rasul sajalah yang harus diikuti dalam setiap masalah kehidupan.
Sekali lagi yang dapat dinamakan seorang muslim hanyalah orang yang rela mengesampingkan pemikirannya sendiri, adat kebiasaan masyarakat dan dunia serta nasihat-nasihat dari orang lain, selain nasihat dari Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim adalah orang yang dalam setiap persoalan selalu berkonsultasi dengan Kitab Allah dan kata-kata Rasul-Nya, untuk mengetahui apa yang harus ia lakukan dan apa yang tidak boleh ia lakukan. Seorang Muslim adalah orang yang mau menerima tanpa ragu-ragu sedikit pun petunjuk apa saja yang di dapatkan dari Allah dan rasul-Nya, dan menolak apa pun yang dilihatnya bertentangan dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, karena ia telah mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Dan tindakkan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah inilah yang menjadikan seseorang dapat disebut seorang muslim.
Sebaliknya, seseorang tidaklah dapat dinamakan seorang muslim bila ia tidak bergantung pada al-Quran dan Sunnah Rasul, tetapi melaksanakan apa yang dikatakan oleh pikirannya sendiri, atau mengikuti apa yang diiperbuat oleh nenek moyangnya, atau menyesuaikan diri dengan apa yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya dan oleh orang-orang di dunia pada umumnya, tanpa mencari petunjuk dalam al-Quran dan As-Sunnah tentang bagaimana menangani urusan-urusannya, atau bila ia tahu apa yang diajarkan oleh al-Quran dan Sunnah tetapi ia berkeberatan untuk menurutinya dengan mengatakan beribu satu macam killah-kilah, semisal “Ah. Ini tidak sesuai dengan akal pikiran saya, karena itu saya tidak menerimanya”, atau “Karena ajaran al-Quran dan Sunnah ini bertentangan dengan ajaran nenek moyang saya, maka saya tidak mengikutinya, atau, “Karena masyarakat dan orang-orang diseluruh dunia tidak menyetujui ajaran al-Quran dan Sunnah, maka saya juga tidak menyetujuinya. Orang yang berpandangan seperti ini tidak dapat dinamakan seorang Muslim, dan bila ia menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Msulim, ia hanyalah seorang pendusta.
UMAT ISLAM DEWASA INI
Banyak sekali umat Islam dewasa ini yang siap menerima apa pun yang sesuai dengan ajaran Islam. Tetapi semua ini cepat berubah manakala muncul konflik antara Islam dan kekafiran. Kelemahan ini terdapat bahkan di antara orang-orang yang menyatakan diri sebagai pembela Islam. Mereka meneriakkan “Islam!, Islam!, dan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada-Nya sampai-sampai mulut mereka kering. Mereka melakukan berbagai kegiatan keislaman. Namun, jika mereka diseru, “Mari kita praktikkan hukum Islam yang kau puji setinggi langit itu”, mereka akan menjawab : “Ada kesulitan dan rintangan, lebih baik kita tinggalkan untuk sementara waktu”.
Apa yang mereka maksudkan adalah, bahwa Islam merupakan mainan yang indah, disimpan di laci dan di puji dari luar, tetapi harus di hindarkan jika ada permintaan untuk menjalankan hukumnya kepada diri kita, keluarga kita, relasi-relasi bisnis kita dan persoalan umum kita. Inilah sikap dari apa yang disebut orang-orang beragama dewasa ini.
KALIMAT THAYYIBAH
Kita menjadi muslim dengan mengucapkan kalimat “Laa illaha illallah, Muhammaddarrasullah” (Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan-nya).
Mengingat kalimah ini merupakan hal yang mendasar dalam Islam, kita mesti meyakini kalimah ini. Dan kita masuk Islam adalah atas dasar kekuatannya, karena itu pahamilah kalimah ini dan sesuaikan hidup kita dengannya, agar kita menjadi “Muslim sejati’. Tanpa kalimah tersebut, kita tidak bisa disebut dan dikatakan sebagai beragama Islam.
Dengan mengucapkan kata-kata ini, orang diharapkan berubah secara radikal. Dulunya dia kafir, kini menjadi muslim. Dulunya dia tidak suci, kini menjadi suci. Dulunya tidak di-ridhai Allah, kini dicintai Allah. Dulu akan dimasukkan ke dalam neraka, kini pintu surga terbuka untuknya.
Pada tingkat yang lebih konkret, dalam kehidupan sosial, kalimah ini menjadi dasar untuk membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Orang yang membaca kalimah ini membentuk satu kaum, sementara yang tidak membacanya membentuk kaum lain. Jika seorang ayah membacanya, namun anaknya menolaknya, maka sang ayah tidak lagi menjadi ayah yang sama, dan si anak juga tidak lagi menjadi anak yang sama. Anak laki-laki tidak akan mewarisi apa pun dari ayahnya, ibunya dan saudara perempuannya, bahkan telah terputus darinya. Selain itu, jika seorang asing mengucapkan kalimah di atas dan menikah kemudian menjadi keluarga muslim, dia dan anaknya berhhak menjadi ahli waris.
Kekuatan kalimah ini demikian kuatnya sehingga melampaui ikatan darah. Kalimah ini juga menyatukan orang asing ke dalam satu bangsa, dan kalimah ini memutus anggota-anggota keluarga yang sama, lepas yang satu dari yang lainnya.
CUKUPKAH PENGUCAPAN KALIMAT INI?
Mengapa kalimat ini menciptakan perbedaan besar antara satu orang dengan orang lain ? apa yang khas dalam kalimat tersebut ?
Bagaimana pun juga, kalimat ini hanya terdiri dari beberapa huruf. (Bila kita ingin melihat dari sudut jumlah dan hurufnya saja) Bila hanya sekedar dihubungkan dan di-eja, apakah huruf-huruf ini akan memiliki kekuatan magis untuk melakukan perubahan manusia secara radikal ? Bisakah dengan mengatakan kata-kata tersebut akan menciptakan perbedaan yang luar biasa ?
Memberikan sedikit saja penalaran akan segera mengingatkan kepada kita, bahwa hanya dengan membuka muluut dan mengucapkan beberapa huruf itu tidak akan memberikan pengaruh apa-apa. Islam mengajarkan, Ketepat-gunaan kata-kata tersebut terletak pada maknanya. Jika kata-kata itu tidak terhujam dalam hati dan tidak mempunyai pengaruh yang cukup kuat untuk membawa perubahan dalam pikiran, moral dan tindakan kita, maka pengucapan itu tidak bermakna dan tidak berkesan.
Berikut ini, contoh sederhana akan menggambarkan hal ini : Bayangkan kita berada dalam situasi yang dingin dan mengguman : “Selimut!’ selimut!” rasa dingin itu tidak akan berkurang sedikitpun meski kita mengulangi kata-kata ini sepanjang malam, berjuta-juta kali sambil berbaring memegang biji tasbih. Namun jika kita menyiapkan selimut itu dan menutupkan pada tubuh kita, rasa dingin itu akan hilang. Atau bayangkanlah kita merasa kehausan dan mengguman : “Air!’ air!”, maka rasa haus kita tidak akan lenyap. Apa yang perlu kita lakukan adalah memperoleh ar dan meminumnya. Atau bayangkanlah kita menderita kedinginan dan demam, kemudian kita memutuskan bahwa obat terbaik adalah dengan menyebut nama obat tertentu untuk menghilangkan penyakit tersebut. Kita tidak akan menjadi lebih baik, namun jika kita meminum obat ini, Insya Allah dingin dan demam itu akan lenyap.
Seperti itulah posisi kalimat di atas. Hanya dengan mengucapkan enam atau tujuh kata sama sekali tidak akan merubah orang kafir menjadi muslim, atau orang yang tidak suci menjadi suci, atau orang yang terkutuk menjadi mulia, juga tidak bisa membuat seorang masuk surga sebagai ganti neraka. Perubahan seperti itu hanya mungkin terjadi, bila anda lebih dahulu memahami makna kata-kata dalam kalimat tersebut dan mencamkan dalam pikiran anda. Lalu bila anda mengucapkan kalimat tersebut dan telah memahami artinya, anda juga harus menyadari benar-benar bahwa dengan mengucapkannya anda telah membuat komitmen yang sangat besar di hadapan Allah dan seluruh dunia, dan memikul tanggung jawab yang sangat besar di atas pundak anda. Dan setelah memahami pengertian pernyataan anda itu, maka pemahaman itu harus menguasai seluruh hidup anda. Dengan demikian, anda tidak akan membiarkan satu ide pun yang bertentangan dengan kalimat ini memasuki pikiran anda. Lalu anda harus memutuskan untuk seterusnya bahwa apa pun yang bertentangan dengan kalimat ini adalah batil, dan hanya yang sesuai dengan kalimat ini sajalah yang benar. Selanjutnya kalimat ini harus menguasai seluruh persoalan hidup anda. Setelah mengucapkan kalimat ini anda tidak bisa lagi hidup bebas untuk melakukan apa saja yang anda sukai, seperti orang-orang kafir. Setelah diikat kalimat ini, anda harus menuruti apa saja yang diiperintahkannya dan menjauhi apa saja yang di larangnya. Bila seorang mengucapkan dan mempercayai kalimat ini, dengan cara seperti di atas, maka orang tersebut menjadi muslim yang sejati. Hanya dengan melalui proses yang demikian itulah bisa terjadi perbedaan besar antara manusia yang satu dengan manusia yang lain.
PERUMPAMAAN DARI KALIMAT THAYYIBAH
Allah menyebut kalimah ‘syahadah’ dengan kalimah ‘Thayyibbah’ “kata yang indah, suci dan bermanfaat” dengan memberikan pengertiannya dengan :
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat suatu perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit? Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan-perumpamaan kalimat yang buruk yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS.Ibrahim (14) :24-27).
Kalimah Thayyibbah di ibaratkan dengan sebuah pohon yang akarnya menghujam di bumi dan rantingnyya menjulang ke angkasa, yang dipenuhi buah sesuai keinginan Tuhannya. Berlawanan dengan kalimah ini adalah kalimah Khabitsah, kata yang jahat, korup, alih-alih takwil sesat, keimanan palsu, pernyataan yang tidak berarti, yang diibaratkan dengan pohon yang tidak berkembang, hanya menempel di permukaan dan mudah di cabut hanya dengan sekali cabut karena akarnya tidak memiliki kekuatan. Kalimat ini bagaikan sebatang kayu yang berdiri bersender ke sesuatu, gampang rubuh.
Bila ‘din’ Islam digambarkan seperti sebuah pohon, maka aqidah seseorang (keimanan) adalah seperti akar sebuah pohon yang menancap ke bumi dengan kuat, sedangkan batangnya yang besar dan kuat, bercabang-cabang dengan daun-daunnya yang hijau segar serta menghasilkan buah yang baik, adalah sebagai amalan Islam-nya, sedangkan ‘Ikhsan’ adalah cara merawat pohon dengan benar karena mengetahui aturan-aturan –Nya.
DIN, SYARIAH DAN IBADAH
Kita sering memakai dan mendengar dua perkataan : din dan syari’ah. Tetapi sedikit sekali diantara kita yang tahu tentang makna kedua kata itu. Orang-orang awam memang tak bisa disalahkan; tetapi bahkan orang-orang yang berpendidikan serta banyak ulama-pun tidak tahu makna dan aplikasi dua kata ini serta perbedaan artinya, sungguh patut disesalkan. Karena kejahilan ini, kata din dan syari’ah sering kali dicampur adukan dan menimbulkan banyak kebingungan dan kekacauan. Dibawah ini akan diterangkan kepada anda makna kedua kata itu dengan bahasa yang sederhana.
ARTI “DIN”
Din mempunyai beberapa arti ; Arti yang pertama adalah “kehormatan pemerintahan, negara, kemaharajaan dan kekuasaan”. Arti yang kedua sangat bertentangan dengan arti yang pertama, yaitu :“ketundukan, kepatuhan, perbudakan, penghambaan, dan penyerahan”. Arti ketiga adalah “Memperhitungkan, mengadili, memberi ganjaran dan hukuman atas perbuatan-perbuatan”. Ketiga arti ini dipakai dalam Qur’an. Allah mengatakan :
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah, hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran, 3:19)
Ini berarti bahwa bagi Allah yang disebut din adalah ajaran yang membuat manusia mengakui hanya Allah saja yang menjadi Pemilik Kemuliaan dan Kehormatan, dan yang tidak membuat manusia bersujud di hadapan siapa pun kecuali Allah. Manusia harus memandang Allah saja sebagai Majikan, Yang dipertuan dan Penguasa, dan manusia tidak boleh menjadi hamba, pelayan dan bawahan dari siapa pun kecuali Allah. Manusia harus menganggap Allah saja sebagai Pemberi ganjaran dan hukuman, dan tidak boleh takut bertanggungjawab kepada siapa pun kecuali Dia, tidak boleh menginginkan ganjaran atau menakuti hukuman dari siapa pun kecuali dari Dia. Sebutan din seperti ini adalah agama Islam maksudnya. Bila, berlawanan dengan din yang seperti ini, misalnya, manusia menganggap seorang manusia lain sesamanya sebagai pemilik kehormatan dan kemuliaan yang sesungguhnya, sebagai tuan dan penguasa yang sesungguhnya, serta pemberi ganjaran dan hukuman yang sebenarnya, lalu tunduk kepadanya dengan sikap yang hina, menghamba kepadanya, mentaati perintah-perintahnya, menginginkan ganjaran dan menakuti hukuman daripadanya, maka din seperti ini adalah din yang bathil. Allah tidak akan menerima din yang semacam ini karena sama sekali berlawanan dengan realita. Tak ada sesuatu pun selain Allah yang memiliki kehormatan dan kemuliaan di seluruh alam semesta ini, tidak pula ada kekuasaan dan kerajaan selain kekuasaan dan kerajaan-Nya. Manusia diciptakan tidak untuk menjadi pelayan atau budak dari siapa pun selain Allah, tidak pula ada majikan yang sebenarnya selain Dia yang mampu memberi ganjaran dan hukuman. Kenyataan ini telah ditunjukkan dalam dua ayat berikut :
“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Al-Qur’an, Ali ’Imran, 3:85)
Artinya; barangsiapa, dengan mengabaikan kedaulatan dan kemaharajaan Tuhan, mengakui manusia lain sesamanya sebagai majikan dan penguasa, serta menjadi pelayan dan hambanya, dan menganggapnya sebagai pemberi ganjaran dan hukuman, maka Tuhan tidak akan menerima din-nya, karena :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus ..” (Al-Qur’an, al-Bayyinah, 98:5)
Memang, Allah telah menciptakan manusia agar menjadi hamba-Nya semata-mata, dan Dia telah melarang mereka bersikap hina dan menghamba kepada siapa pun selain Dia. Karena itu, wajiblah manusia memalingkan diri dari sesama makhluk dan memusatkan perhatian mereka hanya kepada din mereka saja, yatu kepatuhan dan penghambaan kepada Allah. Manusia harus mengabdikan diri untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati, dan hanya takut akan pertanggungjawaban terhadap-Nya saja.
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang dilangit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan”. (Al-Qur’an, Ali ‘Imran, 3:83).
Ini berarti bahwa, apakah manusia mau bersikap hina dan rendah serta melayani manusia lain sesamanya – bukan Allah – walaupun semua makhluk yang ada di langit dan dibumi adalah menjadi budak dan pelayan yang patuh kepada Allah semata-mata, dan mereka hanya menyerahkan diri kepada-Nya saja dan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka kepada-Nya saja ? Apakah manusia mau membuat rencana sendiri yang bertentangan dengan rencana seluruh alam semesta yang terdiri dari bumi dan langit.
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. (Al-Qur’an, at-Taubah, 9:33)
Ini berarti bahwa Allah telah mengutus Utusan-Nya dengan membawa din yang benar dengan tujuan mengakhiri kedaulatan semua Tuhan-tuhan palsu, dan meningkatkan harkat manusia sedemikian rupa, sehingga ia tidak lagi menjadi pelayan dari siapa pun kecuali Penguasa alam semesta, tak perduli keberatan apa pun yang diajukan oleh kaum musyrik dan kafir terhadapnya, karena kejahilan mereka.
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata bagi Allah…” (Al-Qur’an, Al-Anfal, 8:39)
Artinya, anda harus melakukan peperangan, sehingga kejahatan kedaulatan makhluk-bukan kedaulatan Allah-dapat dilenyapkan, dan hanya hukum Allah saja yang berlaku di dunia ini, kedaulatan Allah saja yang diakui dan manusia hanya menjadi hamba Allah semata-mata.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut di atas, tentulan anda sekarang bisa memahami arti din (agama), yakni :
 Mengakui hanya Allah saja sebagai Tuhan, Majikan, dan Penguasa.
 Taat hanya kepada Allah saja, ertamengabdi hanya kepadaNya saja.
 Takut akan pertanggungjawaban terhadap Allah, takut pada hukuman-Nya, dan sangat mengharapkan ganjaran-Nya.
Karena, perintah-perintah Allah hanya disampaikan kepada manusia dalam Kitab-Nya melalui perantaraan Rasul yang membawa Kitab Suci tersebut, maka seorang yang mengakui Allah sebagai Tuhan dan Penguasa, baru dikatakan patuh kepada-Nya, apabila ia juga patuh pada Utusan-Nya dan melaksanakan perintah-perintah yang diterimanya melalui Utusan tersebut, sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an :
“Wahai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri yang menceriterakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (Al-Qur’an, al-A’raf, 7 : 35)
Inilah tepatnya arti yang terkandung dalam din.
APAKAH SYARI’AH ITU?
Selanjutnya akan saya terangkan kepada anda apakah syari’ah itu sebenarnya, Syari’ah berarti cara dan jalan. Apabila anda telah mengakui Allah sebagai yang paling berdaulat atas diri anda dan menerima penghambaan terhadap-Nya. Dan apabila anda telah mengakui bahwa Rasul adalah penguasa dan pemerintah yang nampak di dunia ini, sebagai wakil dari Tuhan, serta mengakui bahwa Kitab Suci yang dibawa Rasul tersebut, memang, dikirimkan oleh Allah, maka ini berarti bahwa anda telah memasuki din Allah. Setelah itu, bagaimana cara anda untuk mengabdi kepada Allah, dan jalan mana yang harus ditempuh dalam pengabdian anda kepada-Nya, itulah yang disebut syari’ah. Cara dan jalan ini juga ditunjukkan oleh Allah melalui Rasulnya yang mengajarkan cara menyembah-Nya serta jalan menuju kesucian dan kebersihan. Rasul menunjukkan kepada kita jalan menuju kebijakan dan kesalehan, cara-cara memberikan hak-hak, cara-cara melakukan transaksi-transaksi dan urusan-urusan dengan sesama manusia, dan cara hidup keseluruhan, Perbedaan antara din dan syari’ah adalah bahwa, din selamanya adalah satu dan sama, baik dahulu maupun sekarang, maka syari’ah adalah banyak, Sebagian dari padanya
dihapuskan, sebagian lagi diganti. Tapi perubahan-perubahan dalam syari’ah ini tidaklah mengubah din. Din-nya Nabi Nuh adalah sama dengan din-nya Nabi Ibrahim, Musa, Isa (Yesus), Syu’aib, Saleh, Hud, dan Muhammad saw, tetapi masing-masing syari’ah dari tiap-tiap Rasul tersebut berbeda satu sama lain sampai sejauh tertentu. Cara-cara melakukan shalat dan puasa dari satu nabi ke nabi yang lain, ajaran-ajaran tentang halal dan haram, peraturan-peraturan tentang bersuci dan aturan-aturan perkawinan, perceraian dan pembagian warisan agak berbeda dari satu syari’ah ke syari’ah yang lain. Tapi meskipun ada perbedaan-perbedaan dalam syari’ah ini, namun semuanya adalah sama-sama Muslim pengikut-pengikut Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Isa, pengikut-pengikut Nabi Musa, dan kita semua ini adalah juga orang-orang Muslim karena din kita adalah satu dan sama. Ini menunjukkan bahwa din tidak terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan dalam peraturan-peraturan syari’ah. Din tetap sama walaupun cara-cara untuk melaksanakannya berbeda.
SIFAT PERBEDAAN DALAM SYARI’AH
Untuk memahami perbedaan ini, marilah kita umpamakan ada seorang tuan yang mempunyai banyak pelayan, Seorang pelayan yang tidak mengakui tuannya dengan semestinya, dan tidak menganggap perintahnya layak untuk ditaati, adalah pelayan yang pembangkang dan tak patut disebut pelayan. Sedangkan mereka yang mengakui tuannya sebagai tuan, merasa berkewajiban menjalankan perintah-perintahnya dan takut untuk membangkang terhadapnya, adalah layak disebut pelayan. Apabila cara-cara melaksanakan tugas yang diberikan oleh tuan mereka itu berbeda satu sama lain, maka hal itu tidaklah mempengaruhi identitas mereka sebagai pelayan. Bila sang tuan menunjukkan satu cara untuk melayaninya kepada seorang pelayan dan menunjukan cara yang lain kepada pelayan yang lain, maka pelayan yang perama tidak berhak untuk mengatakan bahwa hanya dia sendirilah pelayan tuannya itu dan pelayan yang kedua itu bukan, Sama halnya, apabila pemahaman seorang pelayan tentang perintah tuannya berbeda dengan pemahaman pelayan yang lain, tapi keduanya melaksanakan perintah itu sebagaimana menurut pemahaman masing-masing, maka kedua pelayan tersebut adalah sama-sama mengabdi pada tuannya dengan pengabdian yang sama. Mungkin yang satu salah dalam memahami maksud perintah itu sedang yang lain dapat memahaminya dengan betul. Tapi selama keduanya tetap melaksanakan perintah-perintah tersebut, maka tak seorangpun bisa mengatakan kepada pelayan yang salah-paham tersebut bahwa, ia telah membangkang perintah tuannya dan karena itu dipecat dari jabatannya.
Dari contoh ini anda dapat dengan jelas memahami perbedaan antara din dan syari’ah. Sebelum kedatangan Rasulullah saw, Allah telah mengirim berbagai syari’ah melalui berbagai rasul. Kepada seorang Rasul dikirimkan satu macam cara mengabdi kepada Allah, dan kepada Rasul yang lain dikirimkan cara yang lain.
Mereka yang mengabdi kepada Allah menurut cara-cara yang diajarkan oleh Rasul-rasul tersebut adalah orang-orang Islam, walaupun cara-cara pengabdian mereka berbeda satu sama lain.
Kemudian pada Rasulullah Muhammad saw. Diutus, Allah Swt. memerintahkan : “Sekarang seluruh cara-cara pengabdian yang telah lalu Kami hapuskan. Mulai sekarang siapa saja yang mengabdi kepada Kami haruslah mengikuti cara yang telah Kami ajarkan kepada Rasul Kami yang terakhir.” Maka setelah adanya perintah ini, tak seorangpun yang boleh mengabdi kepada Allah menurut cara-cara yang sudah lalu, karena bila ia tak mengikuti cara yang baru dan mengikuti cara yang lama, maka sebenarnya ia tidaklah mentaati perintah Allah, melainkan menuruti kemauannya sendiri. Karena itu ia dapat dan memang otomatis, dipecat dari jabatan sebagai hamba Allah, atau dalam bahasa agama ia telah menjadi kafir.
SIFAT PERBEDAAN DALAM MAZHAB FIQH
Hal yang tersebut di atas menyangkut rasul-rasul sebelum Muhammad saw. Mengenai pengikut-pengikut Rasulullah Muhammad saw. Sendiri, maka bagian kedua dari contoh tersebut di atas berlaku bagi mereka. Semua orang yang percaya bahwa syariah yang dikirimkan Allah kepada Rasulullah Muhammad saw adalah syariah Allah dan merasa berkewajiban untuk mengikutinya adalah orang-orang Islam. Sekarang, bila sebagaian orang Iislam memahami perintah-perintah dalam syariah itu dengan sesuatu pengertian dan sebagian orang Islam yang lain memahaminya dengan pengertian yang berbeda, maka kedua kelompok orang Islam tersebut tetaplah orang Islam, walaupun masing-masing memiliki pengertian yang berbeda tentang perintah-perintah tersebut, dan menjalankan dengan pengertian yang berbeda pula, karena masing-masing yang mengikuti sesuatu cara berkeyakinan bahwa cara itulah yang diperintahkan oleh Allah. Dalam hal ini, masing-masing kelompok tidak berhak untuk mengatakan bahwa kelompoknya sendiri adalah hamba-hamba Allah yang sebenarnya, sedang kelompok yang lain bukan. Paling-paling yang dapat dikatakan adalah bahwa kelompok sendirilah yang memiliki pemahaman yang tepat mengenai perintah Allah mengenai perintah Allah, sedang kelompok lain adalah tidak. Tapi mereka sama sekali tidak berhak memecat kemlompok yang lain itu dari kedudukan mereka sebagai orang-orang Islam.
Barangsiapa yang berani memecat seorang Islam dari keislamannya berarti telah menganggap dirinya sebagai Tuhan. Seolah-olah ia berkata : “Sebagaimana yang engkau ketahui, adalah wajib bagimu untuk mentaati perintah-perintah Allah, demikian pula wajib bagimu untuk tunduk pada pemahamanku tentng perintah Allah itu. Bila kamu tiidak mau tunduk, maka dengan wewenangku sendiri aku akan memecatmu dari kedudukanmu sebagai hamba Allah”. Bayangkan, betapa gawatnya hal ini! Karena itu Rasulullah saw. Mengatakan : “Barangsiapa dengan semena-mena mencap seorang muslim sebagai orang kafir, maka tuduhannya itu akan berbalik kepada dirinya.” Karena Allah hanya mewajibkan seorang muslim taat kepada perintah-Nya saja, si penuduh itu berkata : “Tidak. Kamu juga harus tunduk pada penafsiran dan penilaianku”. (Yang berarti, Tuhanmu bukan hanya Tuhan sendiri saja, tapi aku juga adalah tuhanmu kecil). Dan bila kamu tidak tunduk pada perintahku, maka dengan wewenangku sendiri aku akan memecat dari kedudukanmu sebagai hamba Tuhan, tak peduli apakah Tuhan memecatmu atau tidak.” Barang siapa yang seenaknya berkata seperti ini, berarti ia telah melibatkan dirinya ke dalam bahaya menjadi seorang kafir, terlepas dari apakah orang yang dikatakannya itu berubah dari muslim menjadi kafir atau tidak.
Dengan penjelasan di atas, di harapkan kita semua telah memahami sepenuhnya perbedaan antara ‘din’ dan ‘syariah’. Anda tentunya juga telah mengerti bahwa perbedaan dalam cara mengabdi pada Allah tidak berarti menyimpang dari din, asalkan orang yang mengikuti cara yang tertentu, benar-benar sadar dan yakin bahwa Allah dan Rasul-Nya benar-benar memerintahkan apa yang diikerjakannya itu, dan untuk menguatkan cara yang dilakukannya itu ia memiliki bukti yang otentik dari Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
BAHAYANYA TIDAK MEMAHAMI ANTARA ‘DIN’ DAN ‘SYARI’AH’
Sekarang, akan diterangkan kepada anda akan bahaya yang akan melanda masyarakat Islam karena ketidakmengertian mereka akan perbedaan antara din dan syariah.
Di kalangan ummat Islam ada beberapa cara dalam mengerjakan Shalat. Satu kelompok orang Islam meletakkan tangannya di atas dada, sedang yang lain meletakkan di atas pusat atau perutnya. Sekelompok orang ikut membaca Fatihah ketika menjadi ma’mum di belakang imam, sementara kelompok yang lain tidak. Satu kelompok membaca basmallah dengan keras, sedang kelompok yang lain dengan suara pelan. Masing-masing kelompok mengikuti cara masing-masing dengan keyakinan bahwa cara yang di pakai kelompoknya sendiri itulah yang diajarkan Rasulullah saw, dan untuk memperkuat keyakinannya itu mereka memiliki dalil yang kuat. Karena itu, semua kelompok adalah tetap merupakan pengikut Nabi Muhammad saw, walaupun cara-cara shalat mereka berbeda. Tetapi orang-orang yang tak baik hatinya, yang menganggap masalah-masalah syariah ini sebagai masalah din sendiri, menyatakan : perbedaan-perbedaan dalam cara-cara beribadat itu sebagai perbedaan-perbedaan dalam din. Orang-orang seperti ini membuat kelompok-kelompok sendiri, masjid-masjid mereka dari masjid-masjid kelompok lain, saling menghina satu sama lain, mengusir orang-orang Islam dari kelompok lain dari masjid-masjid mereka, melakukan perang debat dan dalil dan memecah belah ummat Rasulullah saw. Bahkan kalau hal ini masih tidak memuaskan mereka, maka orang-orang yang suka bertengkar ini mulai saling mencap sebagai kafir, berdosa, atau pembuat bid’ah. Ini bisa terjadi bila seseorang yang berprinsip sesuai dengan pemahamannya tentang Al-Quran dan As-Sunnah, tidak puas hanya dengan menjalankan prinsipnya itu bagi dirinya sendiri, tetapi menganggap perlu untuk memaksakan pendiriannya itu pada orang-orang lain, dan bila orang lain itu menolaknya, lalu ia mencap mereka kafir dan telah keluar dari din Allah.
Berbagai mazhab yang kita liihat, terdapat di kalangan ummat Islam, seperti mazhab Hanafi, Syafi’i, Ahlul Hadits dan sebagainya, semuanya mengakui Al-Quran dan Hadits sebagai pegangan terakhir dan melaksanakan ajaran daripadanya sesuai dengan pemahaman mereka. Mungkin bahwa pemahaman yang dimiliki suatu mazhab adalah betul dan pemahaman yang lain keliru. Saya sendiri, penganut salah satu mazhab tersebut dan menganggapnya betul, dan saya juga mengadu argumentasi dengan mereka yang menantang mazhab saya, untuk menerangkan kepada mereka apa yang saya anggap benar dan membuktikan apa yang saya pandang salah. Tetapi menganggap pendapat orang salah adalah berbeda dengan mengkafirkannya. Setiap orang Islam punya hak untuk mengiuti syari’ah menurut pemahamannya sendiri. Apabila sepuluh orang islam mengikuti sepuluh cara yang berbeda, mereka semuanya adalah tetap orang-orang Islam selama mereka masih percaya pada syari’ah islam mereka tetap merupakan satu ummah dan tak ada alasan bagi mereka untuk membentuk kelompok yang terpisah-pisah. Tetapi orang-orang yang tidak memahami hal ini lalu memecah belah masyarakat islam menjadi kelompok-kelompok yang terpisah-pisah karena soal-soal yang remeh, saling menyerang, saling berpisah sholat dan masjid, menghentikan saling kawin mengawini dan saling berhubungan, dan mengorganisir kelompok-kelompok yang terdiri dari orang-orang sesama golongan sendiri, dengan cara sedemikian rupa seolah-olah masing-masing kelompok adalah satu umat yang berdiri sendiri.
BAHAYANYA PERPECAHAN
Anda tidak akan dapat menyadari bahaya apa yang telah menimpa Islam disebabkan oleh perpecahan ini, dengan hanya menyatakan bahwa kaum muslimin adalah satu umat tapi cobalah buka mata anda untuk melihat kenyataan berikut ini.
Ada jutaan umat Islam disekeliling kita, seandainya masyarakat yang sedemikian besar ini betul-betul bersatu dan berjuang bahu membahu untuk menegakkan kalimat Allah, siapa di dunia ini yang akan berani menganggap ringan mereka? tetapi dalam kenyataannya, karena adanya perpecahan-perpecahan dikalangan umat, umat ini telah terpecah-pecah menjadi beratus-ratus golongan. Masing-masing golongan saling membenci, dan karenanya tidak bisa bersatu bahkan dalam keadaan yang paling krisis sekalipun. Masing-masing kelompok umat Islam saling berprasangka melebihi prasangka orang Yahudi terhadap orang Kristen. Sering kali terjadi seorang anggota suatu kelompok umat Islam berpihak kepada orang-orang kafir untuk menghinakan seorang anggota kelompok umat Islam yang lain. Dalam keadaan begini, jangan heran bila anda melihat umat Islam dikalahkan dan dikuasai orang lain. Itulah akibat yang ditimbulkan oleh perbuatan mereka sendiri. Mereka telah terkena hukuman yang telah dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an :
“…Atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan ( yang saling bertentangan ) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebahagian yang lain .” (al-Qur’an, Al-An’am, 6:65).
Artinya; Salah satu hukuman Allah ialah bahwa ia membagi-bagi anda sekalian menjadi golongan-golongan yang berbeda-beda dan menjadikan golongan yang satu menjadi musuh golongan yang lain.
Hukuman yang diderita oleh kaum Muslimin di seluruh negeri tampak dimana-mana. Di sini percecokkan antar kaum muslimin adalah paling ramai, karena inilah maka jumlah anda yang mayoritas ini tak memiliki kekuatan apa-apa yang dapat mendatangkan faedah. Bila anda menginginkan kesejahteraan, anda mesti membubarkan semua golongan-golongan yang ada, hidup bersaudara satu sama lain dan menjadi satu ‘Ummah’ yang bersatu. Tidak ada satu dalil pun dalam syariah Allah yang dapat dijadikan dasar untuk menjadikan mazhab-mazhab, Ahlul hadits, Hanafi, Hambali, Syafi-i, Syi’ah, Sunni dan sebagainya sebagai ummah-ummah yang terpisah-pisah. Ummah-ummah semacam ini adalah produk dari kejahilan. Allah hanya menjadikan satu ummah saja, yaitu : “Ummah Muslimah.”
IBADAT
Dalam penjelasan terdahulu, telah di terangkan maksud dari din dan syari’ah. Sekarang akan diterangkan kepada anda arti sebuah kata lain yang sering dipakai oleh kaum muslimin, tetapi hanya sedikit sekali yang mengetahui arti yang sebenarnya. Kata itulah ialah ‘Ibadat’.
Allah mengatakan dalam Kitab Suci-Nya :

“Dan Aku tiidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat, 51:56).
Dari ayat ini jelas bahwa tujuan anda lahir dan hidup di dunia ini tiada lain daripada beribadat kepada Allah. Nah, sekarang anda bisa menyadari betapa pentingnya bagi anda untuk mengetahui arti ‘ibadat’, bila anda ingin bisa memenuhi tujuan, untuk apa, anda diciptakan. Sesuatu yang tidak dapat mencapai tujuannya berarti gagal. Apabila seorang dokter tidak bisa menyembuhkan penyakit pasiennya, ia dikatakan gagal dalam profesinya. Bila seorang petani tidak bisa menanam tanaman yang baik, ia dikatakan gagal sebagai petani. Sama halnya, bila anda tidak berhasil mencapai tujuan hidup anda sebenarnya, yakni ‘ibadat’, maka berarti seluruh hidup anda telah gagal. Karena itu saya mengharapkan anda semua mendengarkan dengan penuh perhatian dan memahami arti kata ‘ibadat’ dan meyimpannya baik-baik dalam pikiran anda, karena keberhasilan atau kegagalan anda dalam hidup ini tergantung padanya.
ARTI ‘IBADAT’
‘Ibadat’ berasal dari kata ‘abd; artinya adalah “pelayan” dan “budak”. Jadi ‘ibadat berarti “Penghambaan” dan “Perbudakan”. Bila seseorang menjadi budak dari orang lain, melayani tuannya sebagaimana halnya seorang budak, dan bersikap terhadap orang itu sebagaimana terhadap seorang tuan atau majikan, maka perbuatan seperti itu disebut penghambaan dan ‘ibadat. Berlawanan dengan ini, apabila seorang yang menjadi budak dari orang lain dan juga memperoleh gaji daripadanya, tapi tidak mau melayaninya sebagaimana seorang budak terhadap tuannya, maka ia dikatakan tidak patuh dan membangkang, atau lebih tepat lagi, hal itu dapat dikatakan sebagai pengkhianatan.
Sekarang pikirkanlah bagaimana seharusnya tingkah-laku seorang budak terhadap tuannya.
Kewajiban pertama dari seorang budak adalah memandang tuannya sebagai ‘penguasa, dan merasa berkewajiban untuk setia kepada orang yang menjadi tuannya, penunjang hidupnya, pelindung dan penjaganya, dan meyakini sepenuhnya bahwa tak seorang pun selain tuannya itu yang layak mendapatkan kesetiaannya.
Kewajiban kedua dari seorang budak ialah selalu patuh pada tuannya, melaksanakan perintah-perintahnya dengan cermat, jangan sekali-kali enggan melayaninya, dan tidak mengatakan sesuatu pun atau mendengarkan perkataan dari siapa pun yang bertentangan dengan kehendak tuannya. Seorang budak dalam setiap saat, situasi dan kondisi, adalah tetap seorang budak. Ia sama-sekali tak punya hak untuk mengatakan bahwa ia akan mematuhi perintah tertentu dari tuannya dan membangkang perintah lainnya, atau bahwa ia menjadi budak tuannya untuk wakttu-waktu tertentu dan bebas dalam waktu-waktu yang lain.
Kewajiban ketiga dari seorang budak adalah menghormati dan menghargai tuannya. Ia harus mengikuti cara yang ditentukan oleh tuannya sebagai sikap hormat pada waktu yang ditentukan oleh tuannya sebagai bukti bahwa ia benar-benar setia dan patuh kepada tuannya.
Inilah hal-hal yang mutlak harus dipenuhi dalam ibadat, yaitu pertama, kesetian terhadap tuan da majikan; kedua, kepatuhan kepadanya; dan ketiga, penghormatan dan penghargaan terhadapnya. Apa yang dikatakan Allah dalam ayat : “Tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.
Ini berarti bahwa tujuan Allah menciptakan kedua jenis makhluk itu, adalah agar mereka hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, agar mereka hanya mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa pun yang bertentangan dengan perintah-Nya, dan menundukkan kepala dengan hormat dan penghargaan hanya kepada-Nya saja dan tidak kepada yang lain. Ketiga hal ini telah dirumuskan Allah dalam satu istilah yang komprehensif, yaitu. ‘Ibadat. Inilah yang dimaksud dalam semua ayat dimana Allah memerintahkan agar manusia beribadat kepada-Nya. Intisari ajaran Rasul saw dan ajaran rasul-rasul lain yang diutus Allah sebelumnya, adalah :

“Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Quran, Yusuf, 12:40).
Yang berarti bahwa hanya ada satu Penguasa yang berdaulat kepada siapa anda semua harus setia, bahwa penguasa itu adalah Allah; bahwa hanya ada satu hukum yang harus anda patuhi, yaitu hukum Allah; dan bahwa hanya ada satu Dzat yang harus anda sembah, yaitu Allah swt.
AKIBAT PENGERTIAN YANG KELIRU TENTANG IBADAT
Jagalah makna ‘ibadat tersebut di atas dalam pikiran anda dan jawablah pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan berikut ini.
Apakah yang akan anda katakan mengenai seorang pelayan yang melaksanakan tugas-tugas yang diberkan oleh tuannya, apabila ia hanya berdiri saja di sepanjang waktu di hadapan tuannya dengan tangan bersedekap dan terus menerus menyebut nama tuannya? Tuannya menyuruh agar ia pergi untuk mengambil suatu barang yang dirampas oleh si anu dan si anu, tapi ia sama sekali tak bergerak dari tempatnya, malah membungkuk-bungkuk di hadapan tuannya itu dan memberi hormat kepadanya sepuluh kali, kemudian berdiri lagi dengan tangan bersedekap. Tuannya menyuruh membetulkan ketidakberesan-ketidakberesan dan memberantas kejahatan-kejahatan, tapi ia sama sekali tidak bergerak sejengkal pun dari tempatnya, malah bersujud di hadapannya. Tuannya menyuruh : “Potonglah tangan pencuri-pencuri” Mendengar perintah ini, dengan masih tetap berdiri di tempatnya, pelayan itu mengulangi perintah tuannya beberapa kali dengan suara yang sangat merdu : “Potonglah tangan pencuri-pencuri”, tapi tak sekalipun ia berusaha untuk mendirikan suatu sistem pemerintahan di mana orang-orang yang mencuri dihukum dengan hukuman potong tangan. Dapatkan anda mengatakan bahwa pelayan yang seperti ini benar-benar menjalankan tugasnya sebagai pelayan ? Apabila pelayan-pelayan anda bersikap seperti ini, saya tidak tahu apa yang anda katakan. Tetapi saya betul-betul merasa heran bahwa, pelayan-pelayan Allah yang bersikap seperti ini, anda anggap sebagai hamba Allah yang saleh! Orang yang tak punya perasaan seperti ini membaca perintah-perintah Allah dalam Al-Qur’’an entah berapa kali, sejak pagi hingga petang, tapi tak pernah beranjak untuk melaksanakan perintah-perintah tersebut. Sebaliknya ia terus menerus melakukan ‘ibadat sunnat demi ‘ibadat sunat, menyebut-nyebut nama Allah dengan menghitung-menghitung tasbih dan membaca Al-Quran dengan suuara yang merdu. Apabila anda melihat orang seperti ini, anda berkata : “Alangkah salehnya orang itu !”. Kebodohan seperti ini timbul karena anda tdak tahu arti yang sebenarnya dari ‘’Ibadat.
Ada lagi seorang pelayan yang lain, yang siang malam sibuk melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan oleh orang-orang lain kepadanya. Ia mentaati perintah-perintah mereka, dan berbuat menurut hukum yang mereka buat, sementara itu ia terus menerus mengabaikan perintah-perintah dari tuan yang sebenarnya, dan hanya hadir di hadapannya pada waktu apel penghormatan saja dan hanya suka menggoyang-goyangkan lidah menyebut-nyebut nama-nama tuannya saja. Bila pelayan anda berbuat seperti itu, apa yang anda lakukan terhadapnya ? Bila ia menyebut anda sebagai tuan dan paduka, tidakkah anda memelototinya dan mencaci makinya dengan kata-kata : “Kamu bohong dan penipu; kamu makan gaji dari saya tapi perintah orang lain yang kamu kerjakan. Di mulut, kamu mengakui saya sebagai tuanmu, tapi kenyataannya kamu justru mengerjakan perintah orang lain, dan tak pernah mengerjakan perintah saya”. Ini adalah suatu hal yang jelas dan gamblang, yang anda semua bisa memahaminyya. Akan tetapi alangkah mengherankan bahwa anda menganggap sebagai ‘ibadat perbuatan-perbuatan seperti shalat, puasa, dzikir, membaca al-Quran, haji dan zakat yang dilakukan oleh orang-orang yang siang dan malam melanggar aturan dan hukum Allah, yang mengerjakan perintah-perintah orang kafir dan musyrik, dan tak pernah memperdulikan perintah-perintah Allah dalam urusan-urusan hidup mereka. Kebodohan ini juga terjadi karena anda tidak mengerti arti yang sebenarnya dari ‘ibadat.
Ambilah contoh seorang pelayan yang lain. Pelayan ini memakai pakaian seragam yang diberikan oleh tuannya dengan sangat rapi sekali. Ia datang menghadap tuannya dengan sikap yang paling menghormat. Ketika mendengar perintah tuannya, ia membungkuk hormat dan berkata : “Dengan sepenuh hati saya akan mematuhi perintah tuan”, dan memberikan kesan seolah-olah ia adalah pelayan yang paling setia. Pada waktu apel penghormatan, ia berdiri paling depan dan melebihi orang-orang lain dalam menyebutkan nama tuannya. Tetapi dilain pihak, pelayan ini mengabdi kepada pemberontak-pemberontak dan musuh-musuh tuannya sendiri, ikut serta dalam komplotan yang mereka adakan untuk menentang tuannya dan bekerjasama dengan mereka dalam usaha untuk menghapuskan nama tuannya dari muka bumi. Dalam kegelapan malan ia melakukan pencurian di rumah tuannya dan di pagi hari menghadap kepadanya seperti seorang pelayan yang sangat setia. Apa yang akan anda katakan tentang pelayan-pelayan seperti ini? Munafik, pengkhianat, dan pemberontak, demikianlah kira-kira. Tetapi sebuatan apa yang anda berikan kepada pelayan-pelayan Allah yang berbuat seperti ini? Anda sebut mereka , ulama, pemimpin-pemimpin agama, kyai,kayi, haji, orang-orang saleh dan hamba-hamba Allah yang taat? Ini dikarenakan anda memandang mereka sebagai orang-orang yang sangat saleh dan taqwa dengan hanya melihat jenggot-jenggot, sorban dan kopiah mereka, sarung yang mereka pakai dua inci di atas mata-kaki, bekas-bekas sujud pada dahi mereka, shalat mereka yang tak pernah putus-putusnya serta untaian biji-biji tasbih mereka yang besar. Kebodohan ini juga timbul karena anda semua tidak memahami arti dari ‘ibadat’ dan kesalehan.
Anda mengira bahwa berdiri menghadap Qiblat dengan tangan bersedekap, membungkukkan badan dengan tangan diletakkan pada lutut, bersujud dengan tangan diletakkan di tanah dan membaca beberapa kata-kata yang khusus dan tetap, hanya beberapa gerakan dan ucapan saja sudah merupakan ‘ibadah. Anda mengira bahwa dengan hanya melaparkan dan menghauskan diri dari pagi sampai petang setiap hari dalam bulan ramadhan adalah ibadat. Anda kira bahwa membaca beberapa bagian dari surat-surat Al-Quran tanpa memahami artinya adalah ‘ibadat. Anda mengira bahwa kunjungan ke Makkah dan berjalan mengelilingi Ka’bah adalah ‘ibadat. Pendeknya, yang anda namakan ibadat hanyalah segi-segi lahiriyah dari beberapa perbuatan, dan bila anda lihat seseorang mengerjakan perbuatan-perbuatan tersebut dalam bentuk lahirnya, anda lalu mengira bahwa ia telah melaksanakan ‘ibadat kepada Allah dan memenuhi tujuan ayat :

“Dan Aku tiidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat, 51:56).
Dan karenanya setelah itu ia bebas berbuat apa saja yang disukainya selama hidupnya.?!
IBADAT ITU PENGHAMBAAN SEUMUR HIDUP
Akan tetapi kenyataan yang sebenarnya ialah bahwa ‘ibadat, untuk tujuan mana anda semua diciptakan, dan yang telah diperintahkan-Nya kepada anda agar dilaksanakan, adalah sama sekali berbeda. ‘Ibadat yang sebenarnya ialah bahwa anda mengikuti aturan dan hukum Tuhan dalam hidup anda, dalam setiap langkah dan setiap kondisi, dan melepaskan diri anda dari ikatan setiap hukum yang bertentangan dengan hukum Allah. Setiap gerakan yang anda lakukan haruslah selaras dengan garis-garis yang telah ditentukan Allah bagi anda. Setiap tindakan anda harus sesuuai dengan cara yang telah ditentukan Allah. Dengan demikian, maka hidup anda yang anda tempuh dengan cara demikian inilah disebut ‘ibadat, Dalam hidup yang demikian ini, maka tidur anda, bangun anda, makan dan minum anda, bahkan berjalan dan berbicara anda, semuanya adalah ibadat.
Demikian luasnya ruang lingkup ibadat ini hingga hubungan seks anda dengan isteri anda dan ciuman anda kepada anak-anak anda juga adalah ibadat. Pekerjaan-pekerjaan anda yang umumnya anda sebut pekerjaan yang bersifat duniawi, sesungguhnya semuanya adalah pekerjaan-pekerjaan keagamaan dan ‘ibadat, asalkan dalam mengerjakannya anda menjaga diri pada batas-batas yang telah ditentukan Allah, dan dalam setiap langkah selalu memperhatikan apa yang diperbolehkan Allah dan apa yang tidak diperbolehkan oleh-Nya, apa yang halal dan apa yang haram, apa yang diwajibkan dan apa yang yang dilarang, perbuatan dan tindakan apa yang membuat Allah suka kepada anda dan perbuatan serta tindakan mana yang membuat-Nya tidak senang terhadap anda. Misalnya, anda bekerja mencari nafkah. Dalam usaha anda ini, anda akan menemukan kesempatan untuk memperoleh uang haram dengan jalan yang mudah. Apabila, karena takut kepada Allah, anda tidak mau mengambil uang yang demikian itu dan hanya mencari rezeki yang halal saja, maka waktu yang anda pergunakan untuk mencari rezeki secara halal itu seluruhnya adalah terhitung sebagai ‘ibadat. Dan hasil yang anda bawa pulang ke rumah, anda makan bersama anak isteri serta mereka yang berhak untuk ikut memakannya seperti yang telah ditentukan Allah, maka untuk seluruh pekerjaan yang anda lakukan itu, anda berhak memperoleh pahala dan rahmat Allah. Apabla di tengah jalan anda menyingkirkan sebuah batu atau paku agar tidak mengenai orang-orang yang lewat, maka ini juga termasuk ‘ibadat. Apabila anda merawat orang sakit atau menuntun seorang buta atau menolong orang yang sedang kesusahan, maka ini juga termasuk ‘ibadat. Apabila kita bercakap-cakap dengan seseorang, anda menghindar dari dusta, membicarakan orang lain, memfitnah dan berbicara kasar serta menyinggung perasaan dan, karena takut kepada Allah, anda hanya mengatakan hal-hal yang benar saja, maka seluruh waktu yang anda habiskan dengan berbicara secara jujur dan bersih itu akan terhitung sebagai Ibadat.
Jadi, ‘ibadat yang sebenarnya kepada Allah ialah mengikuti hukum dan aturan-aturan Allah dan menjalankan hidup yang sesuai dengan perintah-perintah-Nya sejak dari usia ‘aqil-baliq hingga meninggal. ‘Ibadat tidak mempunyai waktu-waktu tertentu. Ia harus dilaksannakan sepanjang waktu. ‘Ibadat juga tidak mempunyai suatu bentuk yang khas. Dalam setiap perbuatan dan setiap bentuuk-bentuk pekerjaan, ‘ibadat kepada Allah harus dilaksanakan. Karena anda tidak bisa mengatakan : “Saya hanya menjadi hamba Allah pada waktu-waktu tertentu, dan tidak menjadi hamba-Nya pada waktu yang lain”, maka anda juga tidak bisa mengatakan bahwa pelayanan dan ‘ibadat kepada Allah hanya ditentukan pada waktu-waktu yang tertentu pula dan waktu-waktu yang lain tidak diperuntukkan untuk itu.
Anda sekarang telah memahami arti ‘ibadat dan kenyataan bahwa mengabdi kepada Allah dan patuh kepada-Nya sepanjang hayat dan dalam segala situasi dan kondisi adalah ‘ibadat. Sekarang mungkin anda akan bertanya “Kalau begitu, apakah hal-hal sepreti shalat, puasa, haji dan sebagainya itu bukan ibadat? Jawabannya ialah, memang itu semua juga termasuk ‘ibadat, Tapi tujuan dari ibadat-ibadat seperti ini sebenarnya adalah untuk mempersiapkan anda untuk melaksanakan ‘ibadat besar yang harus anda lakukan selama hidup anda dalam segala situasi dan kondisi itu, yakni menegakkan kalimat Allah di muka bumi.
Shalat mengingatkan anda, lima kali sehari, bahwa anda adalah seorang budak Allah dan hanya kepada-Nya-lah dan hanya kepada-Nya anda harus mengabdi. Zakat menyadarkan anda setiap waktu akan kenyataan bahwa uang yang anda peroleh adalah pemberiian Allah. Janganlah anda habiskan uang itu hanya untuk kebutuhan-kebutuhan jasmani anda saja, tetapi haruslah anda berikan juga hak Allah. Haji membangkitkan kesan yang sedemikian rupa akan cinta dan kebesaran Allah dalam hati orang-orang yang melakukannya hingga sekali kesan itu tertanam dalam hati, maka penegaruhnya tidak akan hilang seumur hidup. Bila setelah menjalankan semua ‘ibadat ini seluruh hidup anda menjadi pencerminan ‘ibadat kepada Allah, maka tak syak lagi shalat anda adalah shalat yang benar, puasa anda adalah puasa yang benar, zakat anda adalah zakat yang benar, dan haji anda adalah haji yang benar. Tetapi bila tujuan ini tidak tercapai, maka tidak ada gunanya melakukan ruku’, sujud, puasa, haji, dan zakat itu semua.
Pekerjaan-pekerjaan lahiriah ini dapat diumpamakan sebagai jasad, yang bila mempunyai ruh dan bergerak serta melakukan pekerjaan, ia merupakan manusia yang bertul-betul hidup. Tetapi bila ia mati, maka ia tak lebih hanyalah sebuah mayat. Mayat memang punya segala sesuatu seperti kaki dan tangan, hidung dan mata, tapi tak punya ruh. Karenanya anda menguburkannya dalam tanah. Demikian pula bila peraturan-peraturan dalam shalat, puasa, zakat, dan haji dijalankan, tapi rasa takut dan cinta kepada Allah tidak ada, maka ia juga akan menjadi suatu pekerjaan yang tidak berjiwa dan sia-sia.